Sabtu, 12 Oktober 2013

Sahabat




Imam Suyuthi atau biasa aku panggil dengan sebutan Imam. Dia adalah salah seorang teman sekelasku di kelas XII A yang tinggal di daerah Kabalan Kanor Bojonegoro. 

Setiap kali aku bertemu dengannya, ntah kenapa rasanya kurang mantap atau kurang pas kalo hanya berjabat tangan saja. setiap bertemu, selain berjabat tangan, pasti kami berpelukan. Rasanya ndak kuat menahan diri untuk tidak berpelukan.

 Ada semcam getaran rindu yang mendalam dari lubuk hati kami yang terdalam. Allah menyatukan hati kami dalam ruhNya. Kami serasa dekat walaupun saat ini kami jarang sekali bertemu.
Kalau aku rasakan, tampaknya Imam juga satu ruh denganku layaknya sahabat-sahabatku yang lain. 

Kami mempunyai kecenderungan yang sama. Setiap kali aku ajak dia berbincang tentang ketuhanan, tasawwuf dia bisa nyambung dan bisa mengikuti apa yang aku bicarakan. Dan teman semacam ini jarang sekali aku temui dimanapun. 

Hanya sedikit orang yang bisa aku ajak berbicara tentang masalah-masalah seperti itu. 
imam adalah santri yang sangat giat dalam belajar. Setiap kali ngaji pasti tidak lepas dengan catatan. Setiap ada perkataan guru yang menurutnya penting pasti ia catat. 

Menurut pengakuan Kak Ismail yang satu pondok dengannya di Pondoknya Abah, Imam adalah santri yang paling tekun dan paling giat dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Dia sangat tekun beribadah dan mendekatkan diri pada Allah.

 Apalagi kalo udah membaca dan menghafal al-Qur’an wiuh.... ndak bisa dibayangin kayak apa tekunnya. Aku yang hanya dengar ceritanya saja udah terkagum-kagum dengan temanku yang satu ini. Apalagi kalo lihat sendiri? 

Gimana ndak kagum orang setiap pagi, siang dan malamnya selalu ia fokuskan untuk nderes al-Qur’an. seoalah-olah tidak ada waktu tanpa membaca dan menghafal al-Qur’an. wajar saja kalau hafalannya pun meningkat begitu pesat. 
Yang membuatku iri adalah ketekuanan dan kecintaannya pada kitab suci al-Qur’an. saking cintanya dengan al-Qur’an dia lebih meninggalkan ngobrol dan menghabiskan waktu2nya dengan teman2. Padahal dulu pas kami masih di Asskar, dia adalah siswa yang menurutku biasa-biasa saja. dia mulai menghafalkan pun sejak lulus aliah. 

Dan di Asskar dulu sama sekali aku tidak pernah menyaksikan Imam seperti sekarang ini.
Pernah suatu malam ia tertidur di ruang tamu pondok atau di ruang tamu rumahnya Abah. Karena ruang tamu adalah tempat serawungan orang yang masuk pondok, tentulah pintu ruang tamu tak jarang banyak yang membuka. 

Santri-santri silih berganti keluar masuk melalui pintu tersebut. Waktu udah larut. Santri2pun juga mulai pada istirahat. Suasanapun sepi. Namun kesepian itu terpecah dengan lantunan ayat2 suci yang dibaca oleh Imam Suyuthi. 

Disaat santri-santri sedang asyik menikmati mimipinya justru Imam Suyuthilah yang asyik melantukan kitab sucinya. Tak henti-hentinya dia membaca sehinggal seolah-olah tak ada yang lebih nikmat daripada membaca al-Qur’an. 

Subhanallah suangguh luar biasa temanku yang satu ini. Namanya cocok sekali dengan tingkah lakunya.
Karena dia masih mempunyai sifat kemanusiaan, tentunya dia tak lepas dengan yang namanya mengantuk atau tidur. Setelah lama membaca, akhirnya dia pun juga ikut tertidur waktu membaca al-Qur’an. nah inilah yang paling membuatku iri. 

Dia itu sangat peka sekali pada suara meskipun dalam keadaan tertidur. Biasanya dia tertidur di ruang tamu. Setiap kali ada santri yang masuk dan membuka pintu imam suyuthi segera bangun walaupun hanya mendengar suara dari gesekan pintu tersebut. setelah bangun, tanpa basa-basi imam suyuthi segera pergi ke kamar mandi untuk segera ambil air wudhu. 

Setelah wudhu ia langsung melanjtukan kegiatannya lagi. apalagi kalo bukan membaca al-Qur’an. masya Allah... Terusterang aku sangat iri dan sangat pengen punya semangat seperti temanku ini. Dia begitu semangat dan begitu cinta dengan kitab suciNya.
Namun kini, dia lemas dan tak kuasa menahan sakit yang dideritanya. Udah lima bulan penyakit tipes yang dideritanya tak kunjung sembuh. Beberapa alternatif dan obat-obatan telah dia coba. Namun hasilnya masih sama. 

Menurutku itulah cara Allah mengangkat hamba-hambaNya. Aku berpikiran apa yang saat ini dialami oleh temaku itu adalah ujian dari Allah yang inysa Allah nantinya akan menjadikan dia terangkat derajatnya. 

Walaupun sebenarnya Imam sendiri masih meragukan akan kesembuhan dirinya sendiri. Dia sempat bilang “kalau ndak sembuh ya paling tidak mati.” Namun aku tadi memberi motivasi untuk tetap optimis kalau penyakitnya bisa sembuh dan inyas Allah akan segera sembuh...

2 komentar:

  1. kayaknya udah pernah baca tuliasan ini....

    BalasHapus
  2. Oh ya? mungkin yang satunya karena pernah saya post di blog lain. Seingatku untuk cerita ini belum kupostkan sebelumnya. Eh tapi kurang ingat juga ding.. (Fina)

    BalasHapus