Lebaran
pertamaku di perantauan. Tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng
kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orang tua,
tanpa saudara, tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang
sebelumnya kukenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya ku
merantau ke negri orang.
Dengan
baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah
sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open
house, silaturahim antara ulama dan masyarakat.
“khusus
laki-laki” jawabannya ketika kuutarakan niatku ikut bersamanya. Maka,
akupun jalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar,
karena selepas sholat ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti
mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang
sedang tidak berbuah. Sekarang musim dingin dan pohon-pohon kurma akan
beruah pada musim panas. Kabarnya angin panas di padang pasir yang biasa
disebut Samum(angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di Indonesia. Angin disana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.
Jalanan
lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin
membawa penumpangnya bersilaturrahim saling berkunjung pada lebaran
seperti ini.
Kuketuk pintu rumah Ustazah
Zainab Al-Khotib. Seorang Ustazah dari Taiz, sebuah kota pertanian di
daerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim dan mengajar di Daruz
Zahro, Ma’had di mana aku bersekolah di sana. Suaminya seorang Ustadz
dan pengurus Darul Musthofa, yayasan yang membawahi Daruz Zahro.
Kebetulan kemarin disaat berjumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama
sholat tarawih terakhir, beliau mengajakku –mungkin karena kasihan
terhadap anak baru yang berlebaran sendirian- berkunjung ke beberapa
orang tua di negeri ini.
Senyum Muhammad putera ustazah segera menyambutku kala ia membuka pintu. “Kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fasih. Usianya kutaksir sekitar 7 tahunan.
Aku
mengangguk mengiyakan dan iapun segera berlari ke dalam memberitahu
ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang
tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas negeri Arab hanya bantal-bantal
tebal tersusun sebagai sandaran.
Tak lama
ustazah Zainab menemuiku dengan sabki nampan penuh makanan. Ada berbagai
secangkir kecil teh ni’na minuman khas daerah ini.
Setelah
berbasa-basi sebentar menanyakan keadaan dan aku menjawabnya dengan
bahasa arab ala kadarnya karena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di
negeri ini, Ustazah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami
kunjungi hari ini.
“Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.
“Seorang
perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berzikir.
Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama itu (dalam bahasa arab
artinya bayi) mungkin karena beliau sampai di masa tuanya masih tetap
seperti bayi, tak penah menyakiti siapapun.”
Rumah
itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin papa. Tak
ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah
yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi
tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separoh yang dicat.
Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang dilaburkan begitu saja. Ada
tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa di ruangan itu
pula mereka biasa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang
memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka saat
menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa
beban, tawa ceria anak-abak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa
pelukan dan dibarengi ucapan ahlan wa sahlan terdengar berulang-ulang
seolah kami adalah kerabat terdekat yang selalu dinanti bertandang.
Sungguh... aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan
tak selalu diukur dengan materi.
Sekilas
kudengar ustazah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum
akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk
bersandar di sudut ruangan.
Wanita itu segera
tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti
Hubabah Tiflah yang diceritakan ustazah Zainab di rumahnya tadi. Usianya
kutaksir di atas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.
Dan Ya Allah... ternyata beliau buta...
Pantas
saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut
kedatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik namun
dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atu masalah apapun
dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya,
tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala kulihat ustazah Zainab duduk
dan meencium tangan wanita itu, akupun Cuma mengikuti saja di
belakangnya. Dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri,
“Halimah dari Indonesia” Kataku dengan lahjah yang ketara bukan orang arab tentunya.
Di
balas memegang erat tanganku lama sekali hingga kurasa hangat tangannya
menjalari tubuhku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya.
Mungkin untuk mempermudah dirinya membayangkan rupaku.
Kemudia
diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia
terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tak
ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan
baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu
kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat
doa yang tak akan pernah kulupa. Apalagi tatkala kemudian diiringinya
doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh, membuat aku terpana,
lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengamini doanya...
“Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, anakku...” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...
Ya
Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah menyengsarakan
hidupnya..” katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah
tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan airmata dan akupun ikut
menangis terguguk di lantai itu juga.
“Ya
Allah... kabulkanlah doanya.” Teriakku dalam hati. Jangan pernah tega
menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, di sini dan di sana.
Di dunia ini ataupun hari setelahnya.
Tangisku
tumpah ruah. Kukutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka
dan berkemungkinan membuat sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa
yang kutimbun tak habis-habisnya.
“Ya Allah,
dan maafkan aku yang tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku
yang jika untuk keselamatan diriku sendiri harus ada orang lain yang
memohonkan dengan linangan air matanya. Sesuatu yang bahkan tak kuingat
pernah kulakukan.
“Dan terima kasih Ya Allah... kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”
“Terima kasih untuk air mata kesungguhannya yang mungkin tak kudapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”
“Terima
kasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di
mata malaikat-malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun
penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”
“Terima kasih Ya Allah untuk sebuah pelajaran berharga : Bahwa doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yang dapat kau berikan padanya.”
Tarim, Idul Fitri 1999
Tidak ada komentar:
Posting Komentar