Selasa, 15 Oktober 2013

BIDADARI BUMI #Part 1 (Hubabah Tiflah)

  Sumber: Buku Bidadari Bumi.

 

Lebaran pertamaku di perantauan. Tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orang tua, tanpa saudara, tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang sebelumnya kukenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya ku merantau ke negri orang.

Dengan baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open house, silaturahim antara ulama dan masyarakat.

“khusus laki-laki” jawabannya ketika kuutarakan niatku ikut bersamanya. Maka, akupun jalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar, karena selepas sholat ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang sedang tidak berbuah. Sekarang musim dingin dan pohon-pohon kurma akan beruah pada musim panas. Kabarnya angin panas di padang pasir yang biasa disebut Samum(angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang  membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di Indonesia. Angin disana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.

Jalanan lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin membawa penumpangnya bersilaturrahim saling berkunjung pada lebaran seperti ini.

Kuketuk pintu rumah Ustazah Zainab Al-Khotib. Seorang Ustazah dari Taiz, sebuah kota pertanian di daerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim dan mengajar di Daruz Zahro, Ma’had di mana aku bersekolah di sana. Suaminya seorang Ustadz dan pengurus Darul Musthofa, yayasan yang membawahi Daruz Zahro. Kebetulan kemarin disaat berjumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama sholat tarawih terakhir, beliau mengajakku –mungkin karena kasihan terhadap anak baru yang berlebaran sendirian- berkunjung ke beberapa orang tua di negeri ini.

Senyum Muhammad putera ustazah segera menyambutku kala ia membuka pintu. “Kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fasih. Usianya kutaksir sekitar 7 tahunan.

Aku mengangguk mengiyakan dan iapun segera berlari ke dalam memberitahu ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas negeri Arab hanya bantal-bantal tebal tersusun sebagai sandaran.

Tak lama ustazah Zainab menemuiku dengan sabki nampan penuh makanan. Ada berbagai secangkir kecil teh ni’na minuman khas daerah ini.

Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan keadaan dan aku menjawabnya dengan bahasa arab ala kadarnya karena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di negeri ini, Ustazah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami kunjungi hari ini.

“Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.

“Seorang perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berzikir. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama itu (dalam bahasa arab artinya bayi) mungkin karena beliau sampai di masa tuanya masih tetap seperti bayi, tak penah menyakiti siapapun.”

Rumah itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin papa. Tak ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separoh yang dicat. Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang dilaburkan begitu saja. Ada tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa di ruangan itu pula mereka biasa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka saat menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa beban, tawa ceria anak-abak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa pelukan dan dibarengi ucapan ahlan wa sahlan terdengar berulang-ulang seolah kami adalah kerabat terdekat yang selalu dinanti bertandang. Sungguh... aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalu diukur dengan materi.

Sekilas kudengar ustazah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan.

Wanita itu segera tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti Hubabah Tiflah yang diceritakan ustazah Zainab di rumahnya tadi. Usianya kutaksir di atas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.

Dan Ya Allah... ternyata beliau buta...

Pantas saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut kedatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik namun dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atu masalah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala kulihat ustazah Zainab duduk dan meencium tangan wanita itu, akupun Cuma mengikuti saja di belakangnya. Dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri,

“Halimah dari Indonesia” Kataku dengan lahjah yang ketara bukan orang arab tentunya.

Di balas memegang erat tanganku lama sekali hingga kurasa hangat tangannya menjalari tubuhku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah dirinya membayangkan rupaku.

Kemudia diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tak ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak akan pernah kulupa. Apalagi tatkala kemudian diiringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh, membuat aku terpana, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengamini doanya...

“Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, anakku...” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...

Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah menyengsarakan hidupnya..” katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan airmata dan akupun ikut menangis terguguk di lantai itu juga.

“Ya Allah... kabulkanlah doanya.” Teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, di sini dan di sana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya.

Tangisku tumpah ruah. Kukutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuat sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa yang kutimbun tak habis-habisnya.

“Ya Allah, dan maafkan aku yang tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku sendiri harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air matanya. Sesuatu yang bahkan tak kuingat pernah kulakukan.

“Dan terima kasih Ya Allah... kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”

“Terima kasih untuk air mata kesungguhannya yang mungkin tak kudapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”

“Terima kasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”

“Terima kasih  Ya Allah untuk sebuah pelajaran berharga : Bahwa doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yang dapat kau berikan padanya.”


Tarim, Idul Fitri 1999
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar