24 jam dengan cinta
Oleh: Ust. Budi Ashari, LC
Dua puluh empat jam bersama Rasulullah ternyata menjadi sebuah tema
yang segar dan menyejukkan. Laksana meresapi dan merasakan kehadiran
sosok sempurna nan dirindu jiwa manusia dan semesta. Sosok yang belum
pernah kita ketahui seperti apa, namun harum namanya semerbak menembus
dari dunia hingga Sidratul Muntaha.
Sebelum menyelami lebih
dalam keseharian Rasulullah SAW bersama para sahabatnya, ada satu hal
yang patut disyukuri dan dievaluasi oleh setiap Muslim di dunia, ialah
shalat wajib 5 waktu. Shalat yang menjadi kewajiban syari’at dan
kebutuhan setiap Muslim ini ternyata menyimpan sebuah rahasia mendalam
tentang keseharian yang seharusnya dilakukan oleh setiap Mu’min.
Perintah shalat 5 waktu tidak hanya beresensi tentang shalat saja, namun lebih dari itu. Mari simak ayat cinta dari Allah SWT:
Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki)
masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al-A’raaf:
31).
Dari ayat di atas disampaikan oleh Allah bahwa setiap kita
akan masuk ke masjid (melaksanakan shalat wajib 5 waktu secara
berjama’ah) kita diperintahkan Allah untuk memakai pakaian yang indah,
dan makan, dan minum, dan jangan berlebihan (secukupnya). Artinya
adalah, bahwa Islam mengajarkan kita untuk makan 5 kali sehari, tentu
saja dalam kadar yang cukup dan tidak berlebihan.
Selain
sebagai “pengatur” pola makan, shalat 5 waktu jugalah yang mengatur
kehidupan kita. Dari awal kita terbangun setelah tidur malam hingga akan
menuju pembaringan lagi, kehidupan seorang Muslim benar-benar “dijaga”
oleh shalat 5 waktu.
Malam hingga Fajar
Rasulullah SAW biasa memulai hari (terbangun) pada tengah malam. Sesuai firman Allah SWT dalam surat Al-Muzammil (1-4):
Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di
malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau
kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. Dan
bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
Beliau akan
melaksanakan tahajjud sepanjang malam hingga terdengar adzan fajar
pertama. Pada zaman Rasulullah SAW adzan subuh dilakukan dua kali, yaitu
adzan pertama untuk membangunkan yang masih terlelap atau memberi
isyarat kepada yang sedang melaksanakan qiyamul-lail agar bersegera
menyelesaikan shalatnya karena subuh akan segera datang. Jarak antara
adzan subuh pertama hingga adzan kedua kira-kira adalah sepanjang
dibacakannya 50 ayat Al-Qur’an.
Jeda antara dua adzan tersebut
biasanya dimanfaatkan Rasulullah SAW untuk istirahat sejenak (tidur)
setelah beliau melaksanakan shalat sepanjang malam. Seperti yang kita
tahu bahwa kualitas dan durasi qiyamul-lail Rasulullah SAW adalah yang
terbaik. Lalu akhirnya, Rasulullah akan terbangun pada adzan kedua dan
bersiap untuk memimpin shalat kaum Muslimin di Madinah.
Dhuha
Selepas shalat subuh Rasulullah SAW dan para sahabat tidak langsung
meninggalkan masjid, namun mereka mengisi waktu dengan berdzikir hingga
terbit matahari.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ
حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ
كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ »
“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam
riwayat lain: dia menetap di mesjid (HR ath-Thabrani) – untuk berdzikir
kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat,
maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah,
sempurna sempurna sempurna“ (HR at-Tirmidzi (no. 586).
Shalat
yang dilakukan setelah subuh hingga matahari menjelang itu adalah shalat
isyraq. Kebiasaan ini senantiasa dilakukan oleh Nabi dan para sahabat.
Selesai berdzikir hingga terbitnya matahari dan melaksanakan shalat
isyraq, maka Nabi kembali ke rumahnya, bertemu ‘Aisyah, lalu beliau
bertanya, “Adakah sesuatu yang kau miliki?”
Betapa halus dan
lembut pertanyaan Rasulullah SAW. Berbeda dengan kita yang mungkin akan
bertanya kepada istri, “Ada makanan, enggak?” atau “Lauknya apa?”
Namun Rasulullah tidaklah begitu, bahkan Allah pun telah menyatakan kemuliaan akhlaqnya pada surat Al-Qalam: 4.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Saat ditanya seperti itu terkadang ‘Aisyah menjawab dengan
menghidangkan makanan atau beliau berkata tidak ada yang bisa dimakan.
Jika tidak ada makanan yang dihidangkan oleh ‘Aisyah maka Rasulullah
akan berpuasa hari itu. Namun pernah pula suatu hari ‘Aisyah sengaja
menyimpan sebuah makanan yang sangat disukai Rasulullah SAW dan ketika
Rasulullah masuk ke rumahnya dan bertanya, “Adakah sesuatu yang kau
miliki?”.
Dengan penuh rasa cinta ‘Aisyah mengeluarkan makanan
yang telah ia simpan untuk suaminya tercinta itu dan Rasulullah pun
menerimanya dengan mengucapkan terima kasih yang jua penuh cinta, dan
berkata bahwa sebenarnya beliau berniat puasa, namun karena ini maka
beliau membatalkannya.
Betapa rendah hatinya Rasulullah bahkan
terhadap istri-istrinya. Maka ini menjadi sebuah pelajaran berharga bagi
urusan rumah tangga kaum muslimin, bahwa menghargai apa-apa yang telah
dilakukan oleh istri meskipun terkadang dianggap oleh suami adalah hal
sederhana namun harus diberikan apresiasi yang luar biasa, bahkan
Rasulullah pun membatalkan puasa sunnahnya untuk membalas cinta murni
‘Aisyah kepadanya.
Setelah selesai dengan urusan pagi di
rumahnya, Nabi akan “menggelar” majelis dhuha, majelis yang memiliki
durasi terpanjang jika dibandingkan dengan majelis-majelis Nabi yang
lain. Pada saat menggelar majelis ini, Nabi akan bersandar ke bilik
Ummul Mu’minin ‘Aisyah RA. Ini adalah sebuah bentuk pembelajaran mulia
yang patut ditiru oleh para suami, yaitu senantiasa memberikan bekal
pemahaman ilmu kepada istri-istrinya. Dengan kebiasaan seperti inilah
‘Aisyah menjadi istri Nabi yang meriwayatkan hadits terbanyak dari yang
lainnya. Maka menjadi suami adalah jua menggenggam tanggung jawab untuk
senantiasa meng-upgrade kualitas tsaqafah istri-istrinya.
Meskipun majelis ini senantiasa diselenggarakan oleh Rasulullah SAW,
namun tidak semua sahabat senantiasa mengikutinya. Mungkin ia hadir hari
ini namun esok hari tidak, dan sebaliknya. Hal ini dikarenakan para
sahabat memiliki kesibukan yang bermacam-macam, seperti berdagang,
melakukan perjalanan, dsb. Namun yang menarik adalah, anak-anak
merekalah yang justru lebih intens mengaji kepada Rasulullah SAW. Itulah
mengapa generasi anak-anak para sahabat meriwayatkan hadits lebih
banyak daripada ayah-ayahnya.
Majelis dhuha Nabi ini berbentuk
lingkaran jika jumlah pesertanya sedikit, namun akan dibentuk dua baris
jika jumlah pesertanya banyak. Pada mulanya Nabi duduk membaur saja
dengan para sahabat. Namun hal itu membuat membingungkan tamu-tamu yang
ingin berkunjung dan menemui Rasulullah yang sama sekali belum pernah
melihat Rasulullah, maka sahabat berinisiatif untuk membuatkan tempat
duduk dari tanah liat sehingga jika ada orang/kaum yang datang dari jauh
bisa langsung mengenali Rasulullah SAW.
Jika majelis ini
berbentuk dua baris, maka jika ada orang yang datang dan hanya ingin
bertanya kepada Rasulullah, maka ia dapat langsung berjalan menuju
Rasulullah, bertanya, lalu Rasulullah menjelaskan, dan setelah urusannya
selesai maka ia pergi. Jika kita teringat akan hadits Nabi ketika
malaikat Jibril AS datang kepada Rasulullah dan bertanya tentang apa itu
Islam, iman, dan ihsan, serta kapan terjadinya hari kiamat, lalu di
akhir perbincangan mereka, Jibril membenarkan semua penjelasan
Rasulullah SAW, beberapa ‘ulama’ berpendapat bahwa kejadian tersebut
terjadi di dalam majelis dhuha Rasulullah SAW.
Pernah pula
pada majelis dhuha tersebut ada sahabat (Abu Musa) yang membawa bayinya
yang masih merah untuk di-tahnik, yaitu meminta Rasulullah untuk
mengunyahkan kurma dan memasukkannya ke mulut bagian atas bayi tersebut
dan mendoakan keberkahan untuknya.
Majelis dhuha Nabi pun
pernah berisi canda-canda ringan dan juga “sharing session” dari para
sahabat saat mengingat kebodohan mereka di zaman jahiliyah terdahulu.
Majelis dhuha Nabi sangat beragam, inovatif, dan sama sekali tidak
monoton. Ini dapat menjadi sebuah pelajaran berharga bagi para pendidik
bagaimana mengkondisikan suasana kelas ketika menyampaikan ilmu di sana.
Durasi majeiis dhuha Nabi ini akan berakhir menjelang dzuhur. Menjelang
dzuhur Nabi akan beristirahat lagi (tidur siang sejenak) hingga saat
Bilal mengumandangkan adzan dzuhur.
Dzuhur hingga Maghrib
Selepas dzuhur terdapat majelis ilmu lagi namun durasinya tidaklah
panjang. Setelah itu Rasulullah akan pergi berkeliling Madinah, atau
keluar kota, atau menyelesaikan berbagai macam permasalahan kaum
Muslimin di Madinah dan daerah-daerah tetangganya.
Shalat ashar
di zaman Rasulullah biasanya adalah setengah dari shalat dzuhur
(durasinya, panjang bacaannya, dsb). Hal ini disebabkan karena
Rasulullah mengetahui bahwa para sahabat masih ada yang memiliki
berbagai hajat untuk dipenuhi, entah perdagangan dsj, atau karena ashar
adalah waktu pelepas lelah.
Selepas shalat ashar, Rasulullah
akan mengunjungi rumah-rumah istri-istrinya, bercanda dan bersenda gurau
bersama keluarga besarnya. Jika suatu kali beliau tidak dapat
mengunjungi istri-istrinya maka beliau akan meminta mereka berkumpul di
rumah salah satu istri yang pada hari itu mendapatkan jatah bersama
Rasulullah SAW. Hal ini lagi-lagi menjadi pelajaran berharga bahwa
senantiasa meluangkan waktu setiap hari untuk bersenda-gurau, bercanda,
dan memeriksa kondisi keluarga adalah hal yang harus dilakukan.
Rasulullah meluangkan waktu ini selepas ashar. Maka sebenarnya selepas
ashar adalah saat terbaik untuk berkumpul bersama keluarga. Beliau akan
berkunjung kepada keluarganya hingga maghrib menjelang.
Maghrib hingga ‘Isya’
Maghrib menjelang ‘isya tidak diisi dengan majelis ta’lim karena saat
itu adalah saat beristirahat para sahabat yang baru saja menyelesaikan
urusan-urusannya juga adalah waktu untuk makan para sahabat.
Sebelum melaksanakan shalat ‘isya’ Rasulullah akan mengamati jumlah
jama’ah yang hadir, apakah para sahabat sudah hadir atau belum. Jika
jumlah yang hadir sudah banyak maka Rasulullah SAW akan melaksanakan
shalat ‘isya’ di awal waktu namun jika jumlah jama’ah yang menghadiri
shalat berjama’ah masih sedikit maka Rasulullah akan menunda pelaksanaan
shalat ‘isya’ di tengah malam. Salah satu hikmah di balik menunda
shalat ‘isya’ hingga tengah malam adalah agar para jama’ah dapat
istirahat terlebih dahulu sehingga shalat dilaksanakan tidak dengan
energi sisa. Akan tetapi hal yang perlu diingat adalah penundaan shalat
‘isya’ ini tetap harus dilaksanakan secara berjama’ah di masjid.
Selepas ‘isya’ Rasulullah SAW tidak pernah menyengaja berlama-lama
menuju pembaringan kecuali jika ada urusan kaum Muslimin yang sangat
penting dan darurat.
Demikianlah siklus hari-hari Rasulullah
SAW yang sangat efektif, efisien, dan penuh barakah. Tentu saja habit
ini pun tidak selalu dilakukan Rasulullah karena terkadang beliau dan
para sahabat berada pada kondisi darurat perang, paceklik, dsb yang bisa
jadi membutuhkan adaptasi kondisi. Sungguh beliau adalah contoh
terindah makhluk yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Semoga Allah
mudahkan kita agar senantiasa mampu mengikuti sunnah-sunnah Nabi-Nya.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Wallahu a’lam bish-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar