Kamis, 06 November 2014

Al Fathihah


(Penulisan ayat, sampai dengan tafsir boleh direvisi)


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ  (1 


1. dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang[1].



[1] Maksudnya: saya memulai membaca al-Fatihah ini dengan menyebut nama Allah. Setiap pekerjaan yang baik, hendaknya dimulai dengan menyebut asma Allah, seperti makan, minum, menyembelih hewan dan sebagainya. Allah ialah nama zat yang Maha Suci, yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya, yang tidak membutuhkan makhluk-Nya, tapi makhluk yang membutuhkan-Nya. Ar Rahmaan (Maha Pemurah): salah satu nama Allah yang memberi pengertian bahwa Allah melimpahkan karunia-Nya kepada makhluk-Nya, sedang Ar Rahiim (Maha Penyayang) memberi pengertian bahwa Allah Senantiasa bersifat rahmah yang menyebabkan Dia selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada makhluk-Nya.



ب

:

حرف جر

إستعانة

مبني على الكسر



Dengan
P – prefixed preposition bi
N – genitive masculine noun

اسم

:

مجرور بالباء

جر

كسرة

اسم مفرد

Nama
PN – genitive proper noun → Allah

الله

:

مضاف اليه

جر

كسرة

اسم مفرد

Alloh

Genitive proper noun

الرحمان

:

صفة لـ"الله"

جر

كسرة

اسم مفرد

Pengasih
genitive masculine singular adjective

الرحيم

:

صفة لـ"الله"

جر

كسرة

اسم مفرد

Penyayang
genitive masculine singular adjective
(i'rob ditulis oleh guru kami)




Al Ibris (Kh Bisri Musthafa)

Surat Fatihah iku arane surat makiyyah (tumurune ana ing Makkah) ana kang ngarani madaniyyah, ayate akehe pitu. Fatihah iki artine: Buka'an. Surah iki kejobo di arani surah Fatihah ugi diarani Ummul Kitab. Artine: Ibune Kitab (Al Qur'an). Tegese isine Al Qur'an kabeh iku wus di Kumpulaken ana ingin surah iki. Ugo diarani "Assab'u Matsani" artine ayat pitu kan den bolan-baleni. Diarani menkono jalaran sak jerunE shalat surah fatihah iku paling sitik diwoco ping loro. Wallahu A'lam


(Dr. Zohurul Hoque)

"In the name of Allah, the Entirely Merciful, the Especially Merciful." (1)
Surah Fatihah, as the name indicates, is the Opening Chapter of the Holy Qur-an. The "Opt repeated seven verses" (15:87) of this chapter are recited many times everyday during the Salat or daily Prayers. This chapter is also called Umm al-Kitab or the Gist of the Book, that means, it contains the sum and substance of the Holy Qur-an

The Author of the Holy Qur-an, while revealing His identification, said that His name is "Allah". Then He mentioned what or who He is. He mentioned that He is the "Rabb" or the Creator (and Sustainer) of the whole universe. Thereafter He mentioned that He is the "Rahman" i.e. the Provider of Sustenance for His creation. Then He said, He is the "Rahim" i.e. Most Rewarding for the activities of His creatures; and at the same time He said that He is "Malik" i.e., Master of Judgment for the good and bad deeds done by mankind.

Allah, by disclosing His identity to man, was so kind as to teach him that man should worship Him alone, and should seek His help for fulfillment of all his desires. Let his life be straight and upright, and may he be protected from falling into pitfalls.
[I seek refuge with Allah, from the Shaitan, the driven away.]

(1)With the name of Allah, most Gracious, most Rewarding



Tafsir Jalalain:  Syaikh JALALUDDIN AS-SUYUTHI & JALALUDDIN MUHAMMAD IBNU AHMAD AL-MAHALLY

  "سُورَة الْفَاتِحَة" مَكِّيَّة سَبْع آيَات بِالْبَسْمَلَةِ إنْ كَانَتْ مِنْهَا وَالسَّابِعَة صِرَاط الَّذِينَ إلَى آخِرهَا وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْهَا فَالسَّابِعَة غَيْر الْمَغْضُوب إلَى آخِرهَا وَيُقَدَّر فِي أَوَّلهَا قُولُوا لِيَكُونَ مَا قَبْل إيَّاكَ نَعْبُد مُنَاسِبًا لَهُ بِكَوْنِهَا مِنْ مَقُول الْعِبَاد 

(1)(surat Alfatihah "Makiyyah: tujuh ayat dengan Basamlah. Jika "Basmalah" masuk dalam surah. Maka Ayat yang ke tujuh adalah " صِرَاط الَّذِينَ إلَى آخِرهَا

Jika tidak terdapat Basmalah di dalamnya maka ayat ketujuhnya adalah  غَيْر الْمَغْضُوب إلَى آخِرهَا
Lafadz Quuluu dikira-kirakan pada awal Surah karena terdapat firman yang berada sebelum lafadz Iyyaka Na'budu sesuai dengan apa yang diucapkan para hamba) 


***

Dr.Quraish Shihab (Al Mishbah)
Surah al-Fatihah terdiri dari 7 ayat. Dinamakan surah al-Fatihah, yang berarti 'permulaan'.

Surah al-Fatihah adalah 'Mahkota Tuntunan Ilahi'. Dia adalah 'Ummul Qur'an' atau 'Induk al-Quran'. Banyak nama yang disandangkan kepada awal surah al-Quran itu. Tidak kurang dari dua puluh sekian nama. Dari nama-nama itu dapat diketahui betapa besar dampak yang dapat diperoleh bagi pembacanya. Tidak heran jika doa dianjurkan agar ditutup dengan al-hamdu lillahi rabbil ‘alamin atau bahkan ditutup dengan surah ini.

Dari sekian banyak nama yang disandangnya, hanya tiga atau empat nama yang diperkenalkan oleh Rasul saw. Pada masa beliau dikenal al-Fatihah, Ummul Kitab (Induk Kitab) atau Ummul Qur'an (Induk al-Qur’an) dan as-Sab’ al Matsani (Tujuh ayatnya diulang-ulang).

Banyak hadits Nabi saw yang menyebut nama al-Fatihah, antara lain: "Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al- Kitab," (HR Bukhri, Muslim, dan perawi lainnya.)

Kata fath yang merupakan akar kata nama ini berarti menyingkirkan sesuatu yang terdapat pada suatu tempat yang akan dimasuki. Tentu saja bukan makna harfiah itu yang dimaksud. Penamaannya dengan al-Fatihah karena ia terletak pada awal al-Qur’an dan karena biasanya yang pertama memasuki sesuatu adalah yang membukanya. Kata fatihah di sini berarti awal al-Qur'an.

Surah ini awal dari segi penempatannya pada susunan al-Qur'an, bukan seperti dugaan segelintir kecil ulama bahwa ia dinamai demikian karena surah ini adalah awal surah al-Quran yang turun. Kita juga dapat berkata bahwa al-Fatihah adalah Pembuka yang sangat agung bagi segala macam kebajikan.

(Tafsir depag: disusun oleh sebuah tim yang dibentuk oleh Menteri Agama)
"Dengan menyebut nama Allah", maksudnya "dengan menyebut nama Allah saya baca atau saya mulai". Seakan-akan Nabi berkata: "Saya baca surah ini dengan menyebut nama Allah, bukan dengan menyebut nama saya sendiri, sebab dia wahyu dari Tuhan, bukan dari saya sendiri. Maka basmalah di sini mengandung arti bahwa Alquranul Karim itu wahyu dari Allah, bukan karangan Muhammad saw. dan Muhammad itu hanyalah seorang pesuruh Allah yang dapat perintah menyampaikan Alquran kepada manusia. 

Pemakaian kata "Allah" 

"Allah" nama bagi Zat yang ada dengan sendiri-Nya (wajibul wujud). Kata "Allah" itu hanya dipakai oleh bangsa Arab kepada Tuhan yang sebenarnya, yang berhak disembah, yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan. Mereka tidak memakai kata itu untuk tuhan-tuhan atau dewa-dewa mereka yang lain. 

Kata "Ar-Rahman" terambil dari "Ar-Rahmah" yang berarti "belas kasihan", yaitu suatu sifat yang menimbulkan perbuatan memberi nikmat dan karunia. 

Jadi kata "Ar-Rahman" itu ialah: Yang berbuat (memberi) nikmat dan karunia yang banyak. 

Kata "Ar-Rahim" juga terambil dari "Ar-Rahmah", dan arti "Rahim" ialah: Orang yang mempunyai sifat belas kasihan, dan sifat itu "tetap" padanya selama-lamanya. 

Maka Ar-Rahman Ar-Rahim (Arrahmanirrahim) itu maksudnya: Tuhan itu telah memberi nikmat yang banyak dengan murah-Nya dan telah melimpahkan karunia yang tidak terhingga, karena Dia adalah bersifat belas kasihan kepada makhluk-Nya, dan oleh karena sifat belas kasihan itu adalah suatu sifat yang tetap pada-Nya maka nikmat dan karunia Allah itu tidak ada putus-putusnya. 

Dengan demikian maka kata-kata "Ar-Rahman" dan "Ar-Rahim" itu kedua-duanya adalah diperlukan dalam susunan ini, karena masing-masing mempunyai arti yang khusus. 

Tegasnya bila seseorang Arab mendengar orang mensifati Allah dengan Ar-Rahman, maka terpahamlah olehnya bahwa Allah itu telah melimpahkan nikmat dan karunia-Nya dengan banyak dan berlimpah-limpah. Tetapi bahwa limpahan nikmat dan karunia yang banyak itu tetap, tidak putus-putus tidak dapat dipahami dari lafaz Ar-Rahman itu saja. Karena itu perlulah diikuti dengan Ar-Rahim, supaya orang mengambil pengertian bahwa limpahan nikmat dan karunia serta kemurahan Allah itu tidak ada putus-putusnya. 

Hikmah membaca basmalah 

Seorang muslim disuruh membaca basmalah di waktu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang baik. Yang demikian itu untuk mengingatkan bahwa pekerjaan yang dikerjakannya itu adalah suruhan Allah, atau karena telah diizinkan-Nya. Maka karena Allahlah dia mengerjakan pekerjaan itu dan kepada-Nya dia meminta pertolongan supaya pekerjaan itu terlaksana dengan baik dan berhasil. 

Nabi saw. bersabda: 



كل أمر ذي بال لايبدأ فيه ببسم الله فهو أبتر أي مقطوع الذنب ناقص 

Sesuatu pekerjaan yang penting yang tidak dimulai dengan menyebut nama Allah adalah buntung, yakni tidak ada hasilnya. 



Orang Arab sebelum datang Islam mengerjakan sesuatu pekerjaan adalah dengan menyebut Al-Lata dan Al-`Uzza, yaitu nama-nama berhala mereka. Sebab itu Allah swt. mengajarkan kepada penganut-penganut agama Islam yang telah mengesakan-Nya supaya mereka mengerjakan dengan menyebut nama Allah


Al Fathihah


(Penulisan ayat, sampai dengan tafsir boleh direvisi)
 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
[3] Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

 

الحمد

:

مبتدء

رفع

ضمة

اسم مفرد

Pujian

ل

:

حرف جر

للملك

مبني على الكسر


Bagi

الله

:

مجرور باللام

جر

كسرة

اسم مفرد

Alloh

رب

:

صفة لـ"الله"

جر

كسرة

اسم مفرد

Tuhan

العالمين

:

مضاف اليه

جر

ي

(ملحق)   جمع مذكر سالم

Alam semesta


(2)Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,


(Tafsir Al Ibris: KH. Bisri Musthofa)

 Sekabehane pengalembana itu namung kagungane Allah ta'ala dewe. Kang Mengerani lan nguasani 'alam kabeh iki. Ora Ono makhluq kang anduweni pengalem

-----

Tafsir Jalalain:  Syaikh JALALUDDIN AS-SUYUTHI & JALALUDDIN MUHAMMAD IBNU AHMAD AL-MAHALLY

"الْحَمْد لِلَّهِ"

جُمْلَة خَبَرِيَّة قُصِدَ بِهَا الثَّنَاء عَلَى اللَّه بِمَضْمُونِهَا عَلَى أَنَّهُ تَعَالَى مَالِك لِجَمِيعِ الْحَمْد مِنْ الْخَلْق أَوْ مُسْتَحِقّ لِأَنْ يَحْمَدُوهُ وَاَللَّه عَلَم عَلَى الْمَعْبُود بِحَقٍّ .

"رَبّ الْعَالَمِينَ"

أَيْ مَالِك جَمِيع الْخَلْق مِنْ الْإِنْس وَالْجِنّ وَالْمَلَائِكَة وَالدَّوَابّ وَغَيْرهمْ وَكُلّ مِنْهَا يُطْلَق عَلَيْهِ عَالَم يُقَال عَالَم الْإِنْس وَعَالَم الْجِنّ إلَى غَيْر ذَلِك وَغَلَبَ فِي جَمْعه بِالْيَاءِ وَالنُّون أُولِي الْعِلْم عَلَى غَيْرهمْ وَهُوَ مِنْ الْعَلَامَة لِأَنَّهُ عَلَامَة عَلَى مُوجِده .


(Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. 

(Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.



(Ismail ibn Kathir (Arabic: ابن كثير‎) (1301–1373) was an Islamic scholar and renowned commentator on the Qur’an. Biography His full name is Abu Al-Fida, ‘Imad Ad-Din Isma’il bin ‘Umar bin Kathir Al-Qurashi Al-Busrawi. He was born in 1301 in Busra, Syria (hence Al-Busrawi). He was taught by Shaikh ul-Islam Ibn Taymiyya in Damascus, Syria and Abu al-Hajjaj Al-Mizzi, (d. 1373), Fiqh with Ibn Al Firkah, Hadith with ‘Isa bin Al-Mutim, Ahmed bin Abi-Talib (Ibn Ash-Shahnah) (died in 730AH), Ibn Al-Hajjar (died in 730AH), the Hadith narrator of Ash-Sham (modern day Syria and surrounding areas), Baha Ad-Din Al-Qasim bin Muzaffar bin ‘Asakir (died in 723AH), Ibn Ash-Shirazi, Ishaq bin Yahya Al-Ammuddi, aka ;Afif Ad-Din, the Zahriyyah Shaykh (died in 725AH), and Muhammad bin Zarrad , [1)


(2. Al-Hamd be to Allah, the Lord of all that exists.)

The Meaning of Al-Hamd

Abu Ja`far bin Jarir said, “The meaning of


الْحَمْدُ للَّهِ


(Al-Hamdu Lillah) (all praise and thanks be to Allah) is: all thanks are due purely to Allah, alone, not any of the objects that are being worshipped instead of Him, nor any of His creation. These thanks are due to Allah’s innumerable favors and bounties, that only He knows the amount of. Allah’s bounties include creating the tools that help the creation worship Him, the physical bodies with which they are able to implement His commands, the sustenance that He provides them in this life, and the comfortable life He has granted them, without anything or anyone compelling Him to do so. Allah also warned His creation and alerted them about the means and methods with which they can earn eternal dwelling in the residence of everlasting happiness. All thanks and praise are due to Allah for these favors from beginning to end.” Further, Ibn Jarir commented on the Ayah,


الْحَمْدُ للَّهِ


(Al-Hamdu Lillah), that it means, “A praise that Allah praised Himself with, indicating to His servants that they too should praise Him, as if Allah had said, `Say: All thanks and praise is due to Allah.’ It was said that the statement,


الْحَمْدُ للَّهِ


(All praise and thanks be to Allah), entails praising Allah by mentioning His most beautiful Names and most honorable Attributes. When one proclaims, `All thanks are due to Allah,’ he will be thanking Him for His favors and bounties.”

(The Difference between Praise and Thanks)


Hamd is more general, in that it is a statement of praise for one’s characteristics, or for what he has done. Thanks are given for what was done, not merely for characteristics.


(Al before Hamd encompasses all Types of Thanks and Appreciation for Allah)


The letters Alif and Lam before the word Hamd serve to encompass all types of thanks and appreciation for Allah, the Exalted. A Hadith stated,


«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَكَ الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِكَ الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْكَ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ»


(O Allah! All of Al-Hamd is due to You, You own all the ownership, all types of good are in Your Hand and all affairs belong to You.)

The Meaning of Ar-Rabb, the Lord


Ar-Rabb is the owner who has full authority over his property. Ar-Rabb, linguistically means, the master or the one who has the authority to lead. All of these meanings are correct for Allah. When it is alone, the word Rabb is used only for Allah. As for other than Allah, it can be used to say Rabb Ad-Dar, the master of such and such object. Further, it was reported that Ar-Rabb is Allah’s Greatest Name.

The Meaning of Al-`Alamin


Al-`Alamin is plural for `Alam, which encompasses everything in existence except Allah. The word `Alam is itself a plural word, having no singular form. The `Alamin are different creations that exist in the heavens and the earth, on land and at sea. Every generation of creation is called an `Alam. Al-Farra` and Abu `Ubayd said, “`Alam includes all that has a mind, the Jinns, mankind, the angels and the devils, but not the animals.” Also, Zayd bin Aslam and Abu Muhaysin said, `Alam includes all that Allah has created with a soul.” Further, Qatadah said about,


رَبِّ الْعَـلَمِينَ


(The Lord of the `Alamin), “Every type of creation is an `Alam.” Az-Zajjaj also said, “Alam encompasses everything that Allah created, in this life and in the Hereafter.” Al-Qurtubi commented, “This is the correct meaning, that the `Alam encompasses everything that Allah created in both worlds. Similarly, Allah said,


قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَـلَمِينَ – قَالَ رَبُّ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِن كُنتُمْ مُّوقِنِينَ


(Fir`awn (Pharaoh) said: “And what is the Lord of the `Alamin” Musa (Moses) said: “The Lord of the heavens and the earth, and all that is between them, if you seek to be convinced with certainty”) (26:23-24).

Why is the Creation called `Alam


`Alam is derived from `Alamah, that is because it is a sign testifying to the existence of its Creator and to His Oneness.” 



 

(Tafsir Depag:disusun oleh sebuah tim 

yang dibentuk oleh Menteri Agama)

Pada ayat di atas Allah swt. memulai firman-Nya dengan menyebut "Basmalah" untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah swt. mengajarkan hamba-Nya agar selalu memuji Allah. 
"Al-Hamdu".
الحمد 
Memuji oleh karena sesuatu nikmat yang diberikan oleh yang dipuji atau karena sesuatu sifat keutamaan yang dimiliki-Nya.
Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang jadi sumber bagi semua nikmat. Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, hanyalah Allah semata. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji.
Ada manusia dipuji orang berhubung jasanya yang banyak atau akhlak dan budi pekertinya yang luhur, tetapi orang memujinya itu pada hakekatnya memuji Tuhan, dengan disengaja atau tidak karena Allahlah yang jadi pangkal bagi semua yang disebut itu.
Berhubung nikmat Allah yang sangat banyak, dan berhubung sifat-sifat kesempurnaan yang dipunyai oleh Allah, maka sudah selayaknyalah manusia selalu memuji-Nya.
Orang yang menyebut "Alhamdulillah" bukanlah hanya mengakui bahwa puji itu teruntuk bagi Allah semata, bahkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah.
Dapat juga seseorang memuji Allah dengan sebutan lain, yaitu: الحمد لله tetapi حمدا لله itulah yang dipakaikan Allah di sini, karena susunan semacam itu mengandung arti tetap, yakni dipahamkan di dalamnya bahwa Allah selamanya dipuji, bukan sewaktu-waktu saja.
رب arti aslinya: "Yang Empunya" (pemilik) di dalamnya terkandung arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur.
"Alamin" artinya "semesta alam", yakni semua jenis alam. Alam itu berjenis-jenis macamnya, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk yang bertubuh halus umpamanya malaikat, jin dan alam yang lain. Ada ahli tafsir mengkhususkan "Alamin" di ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini berarti mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas.
Dengan demikian Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya.
Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya, sampai ke masa kanak-kanak lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Tuhan yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya.


Jumat, 28 Februari 2014

Renungan Ar Rahman


->Dialah yag mengajarkan Baginda Nabi Muhammad SAW AL Qur'an. Dan Baginda Muhammad telah mengajarkan umatnya. Nikmat yang paling besar faedahnya dan paling banyak manfaatnya bagi hamba-Nya yaitu nikmat Al Qur'an.
->Nikmat kejadian manusia menjadi dasar semua persoalan dan pokok segala sesuatu.
-> Allah menciptakan makhluk-Nya ini (manusia) beserta kemampuan pandai membicarakan apa yang tergores dalam hati dan jiwanya, atau apa yang terpikir oleh otaknya (dalam lisan/tulisan).
-> Manusia adalah makhluk yang berbudaya. Tidak dapat hidup kecuali dengan berjamaah. Maka haruslah ada alat komunikasi yang dapat menghubungkan antara ia dengan saudaranya yang menulis kepadanya dari penjuru dunia yang jauh dan dari benua-benua. Serta dapat memelihara ilmu-ilmu terdahulu untuk dimanfaatkan oleh orang-orang kemudian dan menambah inovasi-inovasi baru yang maslahah.
Ini adalah suatu anugerah yang sangat tinggi nilainya.
->Dengan perantara matahari dan bulan, teraturlah sarana kehidupan di bumi. Termasuk perubahan musim-musim. Dengan memperhitungkan perubahan tersebut manusia dapat mengatur soal-soal pertanian. Diantaranya, waktu menanam, mengetam, waktu panen.

Fabiayyi Aalaaa-i robbikumaa Tukadzdzibaan!!!

Qod Anshoha


قد انصح لی ابي وربت بحسنها

أمی وأرشدنی الأستاذ والمعلم


Ayah telah menasehatiku dan Ibu telah mendidikku/membimbingku dan gurupun telah mengajariku dengan sebaik2nya


ﻟﻜﻦ ﻓﻘﺪ ﺍﻫﻤﻠﺖ ﺍﻟﻨﺼﺢ ﻭﺍﻻﺭﺷﺎﺩﺍ
ﻭﻟﻢ ﺍﻛﻦ ﻣﺼﻐﻴﺎ ﺭﺷﺪﺍ ﻣﻦ ﺍﻯ فم


Tapi segala nasehat tak kuhiraukan,
Semua petunjuk dan ajaran tak kudengarkan


ﻭﺍﻧﺰﻟﺖ ﻟﻜﻞ ﻫﺒﻮﺏ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﻣﺜﻼ
ﺗﺮﻭح باﻻﺫﺍﻥ ﺗﻐﻨﻴﺔ ﺍﻟﻨﺴﻴﻢ


Kujadikan semua itu laksana angin lalu bagaikan lantunan lagu yg enak didengarkan


ﻓﻜﻨﺖ ﻣﺸﺘﻐﻼ ﺑﺪﻭﺷﺔ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ
ﻭﺳﺤﺮﺕ ﺑﺰﻫﻮﺭ ﺍﻧﻮﺍﻉ اﻟﺤﻄﺎﻡ


Aku berada di gemerlap dunia
Akupun terlena oleh keindahan duniawi


ﻭﺍﻛﻨﺪ ﻧﻌﻤﺔ ﻣﻦ ﺭﺑﻨﺎ ﻛﺒﺮا
ﻭﺍﻧﺴﻴﺖ ﺻﻼﺓ ﻛﺬﺍ ﻭﻟﻢ ﺍﺻﻢ


Aku kufur nikmat Tuhan karena kesombongan
Sholat dan puasapun telah kulupakan


ﻓﻠﻤﺎ ﺍستشعرت باﻟﺮﺃﺱ ﻣﻤﻠﺆﺷﻴﺒﺎ
ﻭﺍﻻﺟﻼﺩﻏﻀﻮﻥ ﻭﺍﻻﻋﻈﻢ ﺭﻣﺎﻡ


Maka tatkala uban mulai bemunculan
Kulit keriput dengan tulang berhancuran


تندمت ﻭﺩﻣﻮﻉ ﺍلعين ساﻟﺘﺪﻣﺎ
ﺍﻓﺎﻕ ﻣﺆﺛﻢ ﻣﻦ غمی الغی الظلام


Air mata darah pun bercucuran sebagai tanda akan sebuah penyesalan
Telah sadar seorang hamba yg bergelimang dosa dalam kegelapan


ﻓﺨﺎﺳﺮﺍﻟﻌﺒﺎﺩ ﺍﺗﺎﻙ ﻣﻠﺘﺠﻴﺎ
ﻣﺮﺗﺠﻴﺎ ﺭﺣﻤﺔ ﻣﻦ ﺭﺑﻪ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ


Hambamu ya Alloh telah datang dengan penuh harapan akan Rahmat dari Tuhannya yg Maha Penyayang


ﻓﻬﺐ ﻟﻨﺎ ﺗﻮﺑﺔ ﻭﺍﻋﻒ ﻋﻨﺎ ﺍﻟﺨﻄﺎﻳﺎ
ﻭﺍﻏﻔﺮﻟﻨﺎ ﻣﺎﻣﻀﻰ ﻳﺎﻭﺍﺳﻊ ﺍﻟﻜﺮﻡ


Maka ampunilah dan maafkanlah segala kesalahan
Limpahkanlah maghfirohMu Wahai Tuhan yg Maha Pemurah

istikharah cinta

Bersaksi cinta diatas cinta
Dalam alunan tasbih ku ini
Menerka hati yang tersembunyi
Berteman dimalam sunyi penuh do'a

Sebut nama Mu terukir merdu

Tertulis dalam sajadah cinta
Tetapkan pilihan sebagai teman (Ad-dzikr)
Kekal abadi hingga akhir zaman

Istikharah cinta memanggilku

Memohon petunjukmu
satu nama teman setia (Al Bayan)
Naluriku berkata (Al Qur'an)

Dipenantian luahan rasa

Teguh satu pilihan (Al Qur'an)
Pemenuh separuh nafasku
Dalam mahabbah rindu

diistikharah cinta..

Senin, 23 Desember 2013

:)



17:19. “Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS Al-Isra': 18-19 )

Jumat, 01 November 2013

Menengok Tafsir Al AZHAR : BUYA HAMKA






Abu Lahab adalah paman dari Nabi SAW sendiri, saudara dari ayah beliau. Nama kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagai kita tahu, ‘Uzza adalah nama sebuah berhala yang dipuja orang Quraisy, Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib. Nama isterinya ialah Arwa, saudara perempuan dari Abu Sufyan Sakhar bin Harb, khalah dari Mu’awiyah.  Dia dipanggilkan Abu Lahab, yang dapat diartikan ke dalam bahasa kita dengan “Pak Menyala”, karena mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Gelar panggilan itu sudah dikenal orang buat dirinya.

Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum Islam, hubungan Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik dengan pamannya ini, sebagai dengan pamannya yang lain-lain juga. Tersebut di dalam riwayat seketika Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, Abu Lahab menyatakan sukacitanya, karena kelahiran Muhammad dipandangnya akan ganti adiknya yang meninggal dunia di waktu muda, ayah Muhammad, yaitu Abdullah. Sampai Abu Lahab mengirimkan seorang jariahnya yang muda, bernama Tsuaibah untuk menyusukan Nabi sebelum datang Halimatus-Sa’diyah dari desa Rani Sa’ad.

Dan setelah anak-anak pada dewasa, salah seorang puteri Rasulullah SAW kawin dengan anak laki-laki Abu Lahab.
Tetapi setelah Rasulullah SAW menyatakan da’wahnya menjadi Utusan Allah, mulailah Abu Lahab menyatakan tantangannya yang amat keras, sehingga melebihi dari yang lain-lain. Bahkan melebihi dari sikap Abu Jahal sendiri.

Seketika datang ayat yang tersebut di dalam Surat 26, Asy-Syu’ara, ayat 214:
“Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat,” keluarlah Nabi SAW dari rumahnya menuju bukit Shafa. Dia berdiri dan mulai menyeru: “Ya Shabahah!” (Berkumpullah pagi-pagi!). Orang-orang yang mendengar tanya bertanya, siapa yang menyeru ini. Ada yang menjawab: “Muhammad rupanya.” Lalu orang pun berkumpul.

Maka mulailah beliau mengeluarkan ucapannya: “Hai Bani Fulan, Hai Bani Fulan, Hai Bani Abdi Manaf, Hai Bani Abdul Muthalib!” Semua Bani yang dipanggilnya itu pun datanglah berkumpul. Lalu beliau berkata: “Kalau aku katakan kepada kamu semua bahwa musuh dengan kuda peperangannya telah keluar dari balik bukit ini, adakah di antara kamu yang percaya?”

Semua menjawab: “Kami belum pernah mengalami engkau berdusta.”

Maka beliau teruskanlah perkataannya: “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwasanya di hadapan saya azab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu.”

Tiba-tiba sedang orang lain terdiam mempertimbangkan perkataannya yang terakhir itu bersoraklah Abu Lahab: “Apa hanya untuk mengatakan itu engkau kumpulkan kami ke mari?” “Tubbanlaka!” Anak celaka!.

Tidak berapa saat kemudian turunlah Surat ini, sebagai sambutan keinginan Abu Lahab agar Nabi Muhammad SAW anaknya itu dapat kebinasaan:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab.” (pangkal ayat 1). Diambil kata ungkapan kedua tangan di dalam bahasa Arab, yang berarti bahwa kedua tangannya yang bekerja dan berusaha akan binasa. 

Orang berusaha dengan kedua tangan, maka kedua tangan itu akan binasa, artinya usahanya akan gagal: “Watabb!” – “Dan binasalah dia.” (ujung ayat 1). Bukan saja usaha kedua belah tangannya yang akan gagal, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakan di dalam menghalangi da’wah Nabi SAW tidaklah ada yang akan berhasil, malahan gagal!

Menurut riwayat tambahan dari Al-Humaidi: “Setelah isteri Abu Lahab mendengar ayat Al-Qur’an yang turun menyebut nama mesjid. Beliau SAW di waktu itu memang ada di dalam mesjid di dekat Ka’bah dan di sisinya duduk Abu Bakar r.a. Dan di tangan perempuan itu ada sebuah batu sebesar segenggaman tangannya. 

Maka berhentilah dia di hadapan Nabi yang sedang duduk bersama Abu Bakar itu. Tetapi kelihatan olehnya hanya Abu Bakar saja. Nabi SAW sendiri yang duduk di situ tidak kelihatan olehnya. Lalu dia berkata kepada Abu Bakar: “Hai Abu Bakar, telah sampai kepada saya beritanya bahwa kawanmu itu mengejekkan saya. 

Demi Allah! Kalau saya bertemu dia, akan saya tampar mulutnya dengan batu ini.”

Sesudah berkata begitu dia pun pergi dengan marahnya.
Maka berkatalah Abu Bakar kepada Nabi SAW “Apakah tidak engkau lihat bahwa dia melihat engkau?” Nabi menjawab: “Dia ada menghadapkan matanya kepadaku, tetapi dia tidak melihatku. Allah menutupkan penglihatannya atasku.”

“Tidaklah memberi faedah kepadanya hartanya dan tidak apa yang diusahakannya.” (ayat 2). Dia akan berusaha menghabiskan harta-bendanya buat menghalangi perjalanan anak saudaranya, hartanyalah yang akan licin tandas, namun hartanya itu tidaklah akan menolongnya. Perbuatannya itu adalah percuma belaka. Segala usahanya akan gagal.

Menurut riwayat dari Rabi’ah bin ‘Ubbad Ad-Dailiy, yang dirawikan oleh Al-Imam Ahmad: “Aku pernah melihat Rasulullah SAW di zaman masih jahiliyah itu berseru-seru di Pasar Dzil Majaz: ‘Hai sekalian manusia! Katakanlah ‘Laa Ilaha Illallah,’ (Tidak ada Tuhan melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan beroleh kemenangan.’”

Orang banyak berkumpul mendengarkan dia berseru-seru itu. Tetapi di belakangnya datang pula seorang laki-laki, mukanya cukup pantas. Dan dia berkata pula dengan kerasnya: “Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat kepada agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta!” Ke mana Nabi SAW pergi, ke sana pula diturutkannya. Orang itu ialah pamannya sendiri, Abu Lahab.

Menurut riwayat dari Abdurrahman bin Kisan, kalau ada utusan dari kabilah-kabilah Arab menemui Rasulullah SAW di Makkah hendak minta keterangan tentang Islam, mereka pun, ditemui oleh Abu Lahab. Kalau orang itu bertanya kepadanya tentang anak saudaranya itu, sebab dia tentu lebih tahu, dibusukkannyalah Nabi SAW dan dikatakannya: “Kadzdzab, Sahir.” (Penipu, tukang sihir).

Namun segala usahanya membusuk-busukkan Nabi itu gagal jua!
“Akan masuklah dia ke dalam api yang bernyala-nyala.” (ayat 3). Dia tidak akan terlepas dari siksaan dan azab Allah. Dia akan masuk api neraka. Dia kemudiannya mati sengsara karena terlalu sakit hati mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Dia sendiri tidak turut dalam peperangan itu. Dia hanya memberi belanja orang lain buat menggantikannya. Dengan gelisah dia menunggu berita hasil perang Badar. Dia sudah yakin Quraisy pasti menang dan kawan-kawannya akan pulang dari peperangan itu dengan gembira. Tetapi yang terjadi ialah sebaliknya. Utusan-utusan yang kembali ke Makkah lebih dahulu mengatakan mereka kalah. Tujuh puluh yang mati dan tujuh puluh pula yang tertawan. 
Sangatlah sakit hatinya mendengar berita itu, dia pun mati. Kekesalan dan kecewa terbayang di wajah jenazahnya.


Anak-anaknya ada yang masuk Islam seketika dia hidup dan sesudah dia mati. Tetapi seorang di antara anaknya itu bernama Utaibah adalah menantu Nabi, kawin dengan Ruqaiyah. Karena disuruh oleh ayahnya menceraikan isterinya, maka puteri Nabi itu diceraikannya. Nabi mengawinkan anaknya itu kemudiannya dengan Usman bin Affan. Nabi mengatakan bahwa bekas menantunya itu akan binasa dimakan “anjing hutan”. Maka dalam perjalanan membawa perniagaan ayahnya ke negeri Syam, di sebuah tempat bermalam di jalan dia diterkam singa hingga mati.
“Dan isterinya.” (pangkal ayat 4). Dan isterinya akan disiksa Tuhan seperti dia juga. Tidak juga akan memberi faedah baginya hartanya, dan tidak juga akan memberi faedah baginya segala usahanya: “Pembawa kayu bakar.” (ujung ayat 4).

Sebagai dikatakan tadi nama isterinya ini Arwa, gelar panggilan kehormatannya sepadan dengan gelar kehormatan suaminya. Dia bergelar Ummu Jamil: Ibu dari kecantikan! Dia saudara perempuan dari Abu Sufyan. Sebab itu dia adalah ‘ammah (saudara perempuan ayah) dari Mu’awiyah dan dari Ummul Mu’minin Ummu Habibah. 

Tetapi meskipun suaminya di waktu dulu seorang yang tampan dan ganteng, dan dia ibu dari kecantikan, karena sikapnya yang buruk terhadap Agama Allah kehinaan yang menimpa diri mereka berdua. Si isteri menjadi pembawa “kayu api”, kayu bakar, menyebarkan api fitnah ke sana sini buat membusuk-busukkan Utusan Allah.
“Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (ayat 5).

Ayat ini mengandung dua maksud. Membawa tali dari sabut, artinya, karena bakhilnya, dicarinya kayu api sendiri ke hutan, dililitkannya kepada lehernya, dengan tali daripada sabut pelepah korma, sehingga berkesan kalau dia bawanya berjalan.

Tafsir yang kedua ialah membawa kayu api ke mana-mana, atau membawa kayu bakar. Membakar perasaan kebencian terhadap Rasulullah mengada-adakan yang tidak ada. Tali dari sabut pengikat kayu api fitnah, artinya bisa menjerat lehernya sendiri.


Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa Tuhan menurunkan Surat tentang Abu Lahab dan isterinya ini akan menjadi pengajaran dan i’tibar bagi manusia yang mencoa berusaha hendak menghalangi dan menantang apa yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, karena memperturutkan hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan adat-istiadat yang karut-marut. Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya sebab dia kaya, maksudnya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karena berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Tuhan, dan harta-bendanya yang telah dipergunakannya berhabis-habis untuk maksudnya yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka. Demikian Ibnu Katsir.

Dan kita pun menampak di sini bahwa meskipun ada pertalian keluarga di antara Rasulullah SAW dengan dia, namun sikapnya menolak kebenaran Ilahi, tidaklah akan menolong menyelamatkan dia hubungan darahnya itu.
***
Selain bernama “Al-Lahab” (nyala) Surat ini pun bernama “Al-Masadd”, yang berarti tali yang terbuat dari sabut itu. Beberapa faedah dan kesan kita perdapat dari Surat ini.
Pertama: Meskipun Abu Lahab paman kandung Nabi SAW saudara kandung dari ayahnya, namun oleh karena sikapnya yang menantang Islam itu, namanya tersebut terang sekali di dalam wahyu, sehingga samalah kedudukannya dengan Fir’aun, Haman dan Qarun, sama disebut namanya dalam kehinaan.

Kedua: Surat Al-Lahab ini pun menjadi i’tibar bagi kita bagaimana hinanya dalam pandangan agama seseorang yang kerjanya “membawa kayu api”, yaitu menghasut dan memfitnah ke sana ke mari dan membusuk-busukkan orang lain. Dan dapat pula dipelajari di sini bahwasanya orang yang hidup dengan sakit hati, dengan rasa kebencian kerapkalilah bernasib sebagai Abu Lahab itu, yaitu mati kejang dengan tiba-tiba bilamana menerima suatu berita yang tidak diharap-harapkannya. Mungkin juga Abu Lahab itu ditimpa oleh penyakit darah tinggi, atau sakit jantung.

***

Pelajaran Tauhid di kelas kali ini membahas tentang kisah Abu Lahab. Guru kami bertanya pada kami mengapa Abu Lahab dinash dalam Al Qur'an sebagai orang yang celaka? Apakah  Tuhan merencanakan penderitaan bagi seseorang? Bukankah Dia tidak mendzolimi hamba-Nya? 

Pertanyaan diajukan agar semua berpikir secara bijak terkait urusan aqidah.  Lalu diantara kami menjawab bahwa itu pilihan Abu Lahab sendiri. Bukankah saat itu petunjuk sudah sedemikian jelas, dan orang hanya perlu memilih mau mengikuti Rosul, atau dengan kesombongannya tetap berada dalam wilayah kekufuran? Karena Abu Lahab memilih jalan celaka, maka turunlah ayat tersebut.

Akan tetapi, setelah itu guru bertanya... "Surah ini dikemukakan sebelum periode kematian Abu Lahab,"

 Kami lantas berpikir... "Tentu sebetulnya masih ada jeda/peluang untuk ia bertaubat," Tapi mengapa seperti sudah tervonis bahwa Ia Celaka? Apakah ketidak taubatannya dikemudian hari... juga merupakan kehendak-Nya? Atau bagiamana?

NB*
Dengan tetap berbaik sangka pada-Nya, dan berusaha mencari jawaban atau kalimat yang tepat untuk membahasakan hubungan irodah-Nya beserta kisah tersebut, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari surah ini. 

Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang berbenah diri, terus berusaha mensucikan diri, dan berharap Allah menerima kita sebagai hamba yang diridhoi-Nya.. Aamiin.