Kamis, 06 November 2014

Al Fathihah


(Penulisan ayat, sampai dengan tafsir boleh direvisi)
 

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ


[2] Alhamdu (segala puji). memuji orang adalah karena perbuatannya yang baik yang dikerjakannya dengan kemauan sendiri. Maka memuji Allah berrati: menyanjung-Nya karena perbuatannya yang baik. lain halnya dengan syukur yang berarti: mengakui keutamaan seseorang terhadap nikmat yang diberikannya. kita menghadapkan segala puji bagi Allah ialah karena Allah sumber dari segala kebaikan yang patut dipuji.
[3] Rabb (tuhan) berarti: Tuhan yang ditaati yang Memiliki, mendidik dan Memelihara. Lafal Rabb tidak dapat dipakai selain untuk Tuhan, kecuali kalau ada sambungannya, seperti rabbul bait (tuan rumah). 'Alamiin (semesta alam): semua yang diciptakan Tuhan yang terdiri dari berbagai jenis dan macam, seperti: alam manusia, alam hewan, alam tumbuh-tumbuhan, benda-benda mati dan sebagainya. Allah Pencipta semua alam-alam itu.

 

الحمد

:

مبتدء

رفع

ضمة

اسم مفرد

Pujian

ل

:

حرف جر

للملك

مبني على الكسر


Bagi

الله

:

مجرور باللام

جر

كسرة

اسم مفرد

Alloh

رب

:

صفة لـ"الله"

جر

كسرة

اسم مفرد

Tuhan

العالمين

:

مضاف اليه

جر

ي

(ملحق)   جمع مذكر سالم

Alam semesta


(2)Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,


(Tafsir Al Ibris: KH. Bisri Musthofa)

 Sekabehane pengalembana itu namung kagungane Allah ta'ala dewe. Kang Mengerani lan nguasani 'alam kabeh iki. Ora Ono makhluq kang anduweni pengalem

-----

Tafsir Jalalain:  Syaikh JALALUDDIN AS-SUYUTHI & JALALUDDIN MUHAMMAD IBNU AHMAD AL-MAHALLY

"الْحَمْد لِلَّهِ"

جُمْلَة خَبَرِيَّة قُصِدَ بِهَا الثَّنَاء عَلَى اللَّه بِمَضْمُونِهَا عَلَى أَنَّهُ تَعَالَى مَالِك لِجَمِيعِ الْحَمْد مِنْ الْخَلْق أَوْ مُسْتَحِقّ لِأَنْ يَحْمَدُوهُ وَاَللَّه عَلَم عَلَى الْمَعْبُود بِحَقٍّ .

"رَبّ الْعَالَمِينَ"

أَيْ مَالِك جَمِيع الْخَلْق مِنْ الْإِنْس وَالْجِنّ وَالْمَلَائِكَة وَالدَّوَابّ وَغَيْرهمْ وَكُلّ مِنْهَا يُطْلَق عَلَيْهِ عَالَم يُقَال عَالَم الْإِنْس وَعَالَم الْجِنّ إلَى غَيْر ذَلِك وَغَلَبَ فِي جَمْعه بِالْيَاءِ وَالنُّون أُولِي الْعِلْم عَلَى غَيْرهمْ وَهُوَ مِنْ الْعَلَامَة لِأَنَّهُ عَلَامَة عَلَى مُوجِده .


(Segala puji bagi Allah) Lafal ayat ini merupakan kalimat berita, dimaksud sebagai ungkapan pujian kepada Allah berikut pengertian yang terkandung di dalamnya, yaitu bahwa Allah Taala adalah yang memiliki semua pujian yang diungkapkan oleh semua hamba-Nya. Atau makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Taala itu adalah Zat yang harus mereka puji. Lafal Allah merupakan nama bagi Zat yang berhak untuk disembah. 

(Tuhan semesta alam) artinya Allah adalah yang memiliki pujian semua makhluk-Nya, yaitu terdiri dari manusia, jin, malaikat, hewan-hewan melata dan lain-lainnya. Masing-masing mereka disebut alam. Oleh karenanya ada alam manusia, alam jin dan lain sebagainya. Lafal 'al-`aalamiin' merupakan bentuk jamak dari lafal '`aalam', yaitu dengan memakai huruf ya dan huruf nun untuk menekankan makhluk berakal/berilmu atas yang lainnya. Kata 'aalam berasal dari kata `alaamah (tanda) mengingat ia adalah tanda bagi adanya yang menciptakannya.



(Ismail ibn Kathir (Arabic: ابن كثير‎) (1301–1373) was an Islamic scholar and renowned commentator on the Qur’an. Biography His full name is Abu Al-Fida, ‘Imad Ad-Din Isma’il bin ‘Umar bin Kathir Al-Qurashi Al-Busrawi. He was born in 1301 in Busra, Syria (hence Al-Busrawi). He was taught by Shaikh ul-Islam Ibn Taymiyya in Damascus, Syria and Abu al-Hajjaj Al-Mizzi, (d. 1373), Fiqh with Ibn Al Firkah, Hadith with ‘Isa bin Al-Mutim, Ahmed bin Abi-Talib (Ibn Ash-Shahnah) (died in 730AH), Ibn Al-Hajjar (died in 730AH), the Hadith narrator of Ash-Sham (modern day Syria and surrounding areas), Baha Ad-Din Al-Qasim bin Muzaffar bin ‘Asakir (died in 723AH), Ibn Ash-Shirazi, Ishaq bin Yahya Al-Ammuddi, aka ;Afif Ad-Din, the Zahriyyah Shaykh (died in 725AH), and Muhammad bin Zarrad , [1)


(2. Al-Hamd be to Allah, the Lord of all that exists.)

The Meaning of Al-Hamd

Abu Ja`far bin Jarir said, “The meaning of


الْحَمْدُ للَّهِ


(Al-Hamdu Lillah) (all praise and thanks be to Allah) is: all thanks are due purely to Allah, alone, not any of the objects that are being worshipped instead of Him, nor any of His creation. These thanks are due to Allah’s innumerable favors and bounties, that only He knows the amount of. Allah’s bounties include creating the tools that help the creation worship Him, the physical bodies with which they are able to implement His commands, the sustenance that He provides them in this life, and the comfortable life He has granted them, without anything or anyone compelling Him to do so. Allah also warned His creation and alerted them about the means and methods with which they can earn eternal dwelling in the residence of everlasting happiness. All thanks and praise are due to Allah for these favors from beginning to end.” Further, Ibn Jarir commented on the Ayah,


الْحَمْدُ للَّهِ


(Al-Hamdu Lillah), that it means, “A praise that Allah praised Himself with, indicating to His servants that they too should praise Him, as if Allah had said, `Say: All thanks and praise is due to Allah.’ It was said that the statement,


الْحَمْدُ للَّهِ


(All praise and thanks be to Allah), entails praising Allah by mentioning His most beautiful Names and most honorable Attributes. When one proclaims, `All thanks are due to Allah,’ he will be thanking Him for His favors and bounties.”

(The Difference between Praise and Thanks)


Hamd is more general, in that it is a statement of praise for one’s characteristics, or for what he has done. Thanks are given for what was done, not merely for characteristics.


(Al before Hamd encompasses all Types of Thanks and Appreciation for Allah)


The letters Alif and Lam before the word Hamd serve to encompass all types of thanks and appreciation for Allah, the Exalted. A Hadith stated,


«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَكَ الْمُلْكُ كُلُّهُ، وَبِيَدِكَ الْخَيْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْكَ يُرْجَعُ الْأَمْرُ كُلُّهُ»


(O Allah! All of Al-Hamd is due to You, You own all the ownership, all types of good are in Your Hand and all affairs belong to You.)

The Meaning of Ar-Rabb, the Lord


Ar-Rabb is the owner who has full authority over his property. Ar-Rabb, linguistically means, the master or the one who has the authority to lead. All of these meanings are correct for Allah. When it is alone, the word Rabb is used only for Allah. As for other than Allah, it can be used to say Rabb Ad-Dar, the master of such and such object. Further, it was reported that Ar-Rabb is Allah’s Greatest Name.

The Meaning of Al-`Alamin


Al-`Alamin is plural for `Alam, which encompasses everything in existence except Allah. The word `Alam is itself a plural word, having no singular form. The `Alamin are different creations that exist in the heavens and the earth, on land and at sea. Every generation of creation is called an `Alam. Al-Farra` and Abu `Ubayd said, “`Alam includes all that has a mind, the Jinns, mankind, the angels and the devils, but not the animals.” Also, Zayd bin Aslam and Abu Muhaysin said, `Alam includes all that Allah has created with a soul.” Further, Qatadah said about,


رَبِّ الْعَـلَمِينَ


(The Lord of the `Alamin), “Every type of creation is an `Alam.” Az-Zajjaj also said, “Alam encompasses everything that Allah created, in this life and in the Hereafter.” Al-Qurtubi commented, “This is the correct meaning, that the `Alam encompasses everything that Allah created in both worlds. Similarly, Allah said,


قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَـلَمِينَ – قَالَ رَبُّ السَّمَـوَتِ وَالاٌّرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَآ إِن كُنتُمْ مُّوقِنِينَ


(Fir`awn (Pharaoh) said: “And what is the Lord of the `Alamin” Musa (Moses) said: “The Lord of the heavens and the earth, and all that is between them, if you seek to be convinced with certainty”) (26:23-24).

Why is the Creation called `Alam


`Alam is derived from `Alamah, that is because it is a sign testifying to the existence of its Creator and to His Oneness.” 



 

(Tafsir Depag:disusun oleh sebuah tim 

yang dibentuk oleh Menteri Agama)

Pada ayat di atas Allah swt. memulai firman-Nya dengan menyebut "Basmalah" untuk mengajarkan kepada hamba-Nya agar memulai sesuatu perbuatan yang baik dengan menyebut basmalah itu, sebagai pernyataan bahwa dia mengerjakan perbuatan itu karena Allah dan kepada-Nyalah dia memohonkan pertolongan dan berkat. Maka pada ayat ini Allah swt. mengajarkan hamba-Nya agar selalu memuji Allah. 
"Al-Hamdu".
الحمد 
Memuji oleh karena sesuatu nikmat yang diberikan oleh yang dipuji atau karena sesuatu sifat keutamaan yang dimiliki-Nya.
Semua nikmat yang telah dirasakan dan didapat di alam ini dari Allah, sebab Dialah yang jadi sumber bagi semua nikmat. Yang mempunyai sifat-sifat kesempurnaan, hanyalah Allah semata. Karena itu Allah sajalah yang berhak dipuji.
Ada manusia dipuji orang berhubung jasanya yang banyak atau akhlak dan budi pekertinya yang luhur, tetapi orang memujinya itu pada hakekatnya memuji Tuhan, dengan disengaja atau tidak karena Allahlah yang jadi pangkal bagi semua yang disebut itu.
Berhubung nikmat Allah yang sangat banyak, dan berhubung sifat-sifat kesempurnaan yang dipunyai oleh Allah, maka sudah selayaknyalah manusia selalu memuji-Nya.
Orang yang menyebut "Alhamdulillah" bukanlah hanya mengakui bahwa puji itu teruntuk bagi Allah semata, bahkan dengan ucapannya itu dia memuji Allah.
Dapat juga seseorang memuji Allah dengan sebutan lain, yaitu: الحمد لله tetapi حمدا لله itulah yang dipakaikan Allah di sini, karena susunan semacam itu mengandung arti tetap, yakni dipahamkan di dalamnya bahwa Allah selamanya dipuji, bukan sewaktu-waktu saja.
رب arti aslinya: "Yang Empunya" (pemilik) di dalamnya terkandung arti: mendidik, yaitu menyampaikan sesuatu kepada keadaannya yang sempurna dengan berangsur-angsur.
"Alamin" artinya "semesta alam", yakni semua jenis alam. Alam itu berjenis-jenis macamnya, yaitu alam tumbuh-tumbuhan, alam binatang, alam manusia, alam benda, alam makhluk yang bertubuh halus umpamanya malaikat, jin dan alam yang lain. Ada ahli tafsir mengkhususkan "Alamin" di ayat ini kepada makhluk-makhluk Allah yang berakal yaitu manusia, malaikat dan jin. Tetapi ini berarti mempersempit arti kata yang sebenarnya amat luas.
Dengan demikian Allah itu Pendidik semesta alam tak ada suatu juga dari makhluk Allah itu terjauh dari didikan-Nya.
Tuhan mendidik makhluk-Nya dengan seluas arti kata itu. Sebagai pendidik, Dia menumbuhkan, menjaga, memberikan daya (tenaga) dan senjata kepada makhluk itu guna kesempurnaan hidupnya masing-masing.
Siapa yang memperhatikan perjalanan bintang-bintang, menyelidiki kehidupan tumbuh-tumbuhan dan binatang di laut dan di darat, mempelajari pertumbuhan manusia sejak dari rahim ibunya, sampai ke masa kanak-kanak lalu menjadi manusia yang sempurna, tahulah dia bahwa tidak ada sesuatu juga dari makhluk Tuhan yang terlepas dari penjagaan, pemeliharaan, asuhan dan inayah-Nya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar