تَعَلَّمْ فَاِنَّ اْلعِلْمَ زَيْنٌ لأَهْلِهِ # وَفَضْلٌ وَعِنْوَانٌ لِكُلِّ الْمَحَامِِدِ ****** وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً # مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبحْ فِىْ بُحُوْرِ الْفَوَائِدِ
Senin, 23 Desember 2013
:)
17:19. “Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS Al-Isra': 18-19 )
Jumat, 01 November 2013
Menengok Tafsir Al AZHAR : BUYA HAMKA
Abu Lahab adalah paman dari Nabi SAW sendiri, saudara dari ayah beliau. Nama kecilnya Abdul ‘Uzza. Sebagai kita tahu, ‘Uzza adalah nama sebuah berhala yang dipuja orang Quraisy, Abdul ‘Uzza bin Abdul Muthalib. Nama isterinya ialah Arwa, saudara perempuan dari Abu Sufyan Sakhar bin Harb, khalah dari Mu’awiyah. Dia dipanggilkan Abu Lahab, yang dapat diartikan ke dalam bahasa kita dengan “Pak Menyala”, karena mukanya itu bagus, terang bersinar dan tampan. Gelar panggilan itu sudah dikenal orang buat dirinya.
Dalam kekeluargaan sejak zaman sebelum Islam, hubungan Muhammad SAW sebelum menjadi Rasul amat baik dengan pamannya ini, sebagai dengan pamannya yang lain-lain juga. Tersebut di dalam riwayat seketika Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia, Abu Lahab menyatakan sukacitanya, karena kelahiran Muhammad dipandangnya akan ganti adiknya yang meninggal dunia di waktu muda, ayah Muhammad, yaitu Abdullah. Sampai Abu Lahab mengirimkan seorang jariahnya yang muda, bernama Tsuaibah untuk menyusukan Nabi sebelum datang Halimatus-Sa’diyah dari desa Rani Sa’ad.
Dan setelah anak-anak pada dewasa, salah seorang puteri Rasulullah SAW kawin dengan anak laki-laki Abu Lahab.
Tetapi setelah Rasulullah SAW menyatakan da’wahnya menjadi Utusan Allah, mulailah Abu Lahab menyatakan tantangannya yang amat keras, sehingga melebihi dari yang lain-lain. Bahkan melebihi dari sikap Abu Jahal sendiri.
Seketika datang ayat yang tersebut di dalam Surat 26, Asy-Syu’ara, ayat 214:
“Dan beri peringatanlah kepada kaum kerabatmu yang terdekat,” keluarlah Nabi SAW dari rumahnya menuju bukit Shafa. Dia berdiri dan mulai menyeru: “Ya Shabahah!” (Berkumpullah pagi-pagi!). Orang-orang yang mendengar tanya bertanya, siapa yang menyeru ini. Ada yang menjawab: “Muhammad rupanya.” Lalu orang pun berkumpul.
Maka mulailah beliau mengeluarkan ucapannya: “Hai Bani Fulan, Hai Bani Fulan, Hai Bani Abdi Manaf, Hai Bani Abdul Muthalib!” Semua Bani yang dipanggilnya itu pun datanglah berkumpul. Lalu beliau berkata: “Kalau aku katakan kepada kamu semua bahwa musuh dengan kuda peperangannya telah keluar dari balik bukit ini, adakah di antara kamu yang percaya?”
Semua menjawab: “Kami belum pernah mengalami engkau berdusta.”
Maka beliau teruskanlah perkataannya: “Sekarang aku beri peringatan kepadamu semuanya, bahwasanya di hadapan saya azab Tuhan yang besar sedang mengancam kamu.”
Tiba-tiba sedang orang lain terdiam mempertimbangkan perkataannya yang terakhir itu bersoraklah Abu Lahab: “Apa hanya untuk mengatakan itu engkau kumpulkan kami ke mari?” “Tubbanlaka!” Anak celaka!.
Tidak berapa saat kemudian turunlah Surat ini, sebagai sambutan keinginan Abu Lahab agar Nabi Muhammad SAW anaknya itu dapat kebinasaan:
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab.” (pangkal ayat 1). Diambil kata ungkapan kedua tangan di dalam bahasa Arab, yang berarti bahwa kedua tangannya yang bekerja dan berusaha akan binasa.
Orang berusaha dengan kedua tangan, maka kedua tangan itu akan binasa, artinya usahanya akan gagal: “Watabb!” – “Dan binasalah dia.” (ujung ayat 1). Bukan saja usaha kedua belah tangannya yang akan gagal, bahkan dirinya sendiri, rohani dan jasmaninya pun akan binasa. Apa yang direncanakan di dalam menghalangi da’wah Nabi SAW tidaklah ada yang akan berhasil, malahan gagal!
Menurut riwayat tambahan dari Al-Humaidi: “Setelah isteri Abu Lahab mendengar ayat Al-Qur’an yang turun menyebut nama mesjid. Beliau SAW di waktu itu memang ada di dalam mesjid di dekat Ka’bah dan di sisinya duduk Abu Bakar r.a. Dan di tangan perempuan itu ada sebuah batu sebesar segenggaman tangannya.
Maka berhentilah dia di hadapan Nabi yang sedang duduk bersama Abu Bakar itu. Tetapi kelihatan olehnya hanya Abu Bakar saja. Nabi SAW sendiri yang duduk di situ tidak kelihatan olehnya. Lalu dia berkata kepada Abu Bakar: “Hai Abu Bakar, telah sampai kepada saya beritanya bahwa kawanmu itu mengejekkan saya.
Demi Allah! Kalau saya bertemu dia, akan saya tampar mulutnya dengan batu ini.”
Sesudah berkata begitu dia pun pergi dengan marahnya.
Maka berkatalah Abu Bakar kepada Nabi SAW “Apakah tidak engkau lihat bahwa dia melihat engkau?” Nabi menjawab: “Dia ada menghadapkan matanya kepadaku, tetapi dia tidak melihatku. Allah menutupkan penglihatannya atasku.”
“Tidaklah memberi faedah kepadanya hartanya dan tidak apa yang diusahakannya.” (ayat 2). Dia akan berusaha menghabiskan harta-bendanya buat menghalangi perjalanan anak saudaranya, hartanyalah yang akan licin tandas, namun hartanya itu tidaklah akan menolongnya. Perbuatannya itu adalah percuma belaka. Segala usahanya akan gagal.
Menurut riwayat dari Rabi’ah bin ‘Ubbad Ad-Dailiy, yang dirawikan oleh Al-Imam Ahmad: “Aku pernah melihat Rasulullah SAW di zaman masih jahiliyah itu berseru-seru di Pasar Dzil Majaz: ‘Hai sekalian manusia! Katakanlah ‘Laa Ilaha Illallah,’ (Tidak ada Tuhan melainkan Allah), niscaya kamu sekalian akan beroleh kemenangan.’”
Orang banyak berkumpul mendengarkan dia berseru-seru itu. Tetapi di belakangnya datang pula seorang laki-laki, mukanya cukup pantas. Dan dia berkata pula dengan kerasnya: “Jangan kalian dengarkan dia. Dia telah khianat kepada agama nenek-moyangnya, dia adalah seorang pendusta!” Ke mana Nabi SAW pergi, ke sana pula diturutkannya. Orang itu ialah pamannya sendiri, Abu Lahab.
Menurut riwayat dari Abdurrahman bin Kisan, kalau ada utusan dari kabilah-kabilah Arab menemui Rasulullah SAW di Makkah hendak minta keterangan tentang Islam, mereka pun, ditemui oleh Abu Lahab. Kalau orang itu bertanya kepadanya tentang anak saudaranya itu, sebab dia tentu lebih tahu, dibusukkannyalah Nabi SAW dan dikatakannya: “Kadzdzab, Sahir.” (Penipu, tukang sihir).
Namun segala usahanya membusuk-busukkan Nabi itu gagal jua!
“Akan masuklah dia ke dalam api yang bernyala-nyala.” (ayat 3). Dia tidak akan terlepas dari siksaan dan azab Allah. Dia akan masuk api neraka. Dia kemudiannya mati sengsara karena terlalu sakit hati mendengar kekalahan kaum Quraisy dalam peperangan Badar. Dia sendiri tidak turut dalam peperangan itu. Dia hanya memberi belanja orang lain buat menggantikannya. Dengan gelisah dia menunggu berita hasil perang Badar. Dia sudah yakin Quraisy pasti menang dan kawan-kawannya akan pulang dari peperangan itu dengan gembira. Tetapi yang terjadi ialah sebaliknya. Utusan-utusan yang kembali ke Makkah lebih dahulu mengatakan mereka kalah. Tujuh puluh yang mati dan tujuh puluh pula yang tertawan.
Sangatlah sakit hatinya mendengar berita itu, dia pun mati. Kekesalan dan kecewa terbayang di wajah jenazahnya.
Anak-anaknya ada yang masuk Islam seketika dia hidup dan sesudah dia mati. Tetapi seorang di antara anaknya itu bernama Utaibah adalah menantu Nabi, kawin dengan Ruqaiyah. Karena disuruh oleh ayahnya menceraikan isterinya, maka puteri Nabi itu diceraikannya. Nabi mengawinkan anaknya itu kemudiannya dengan Usman bin Affan. Nabi mengatakan bahwa bekas menantunya itu akan binasa dimakan “anjing hutan”. Maka dalam perjalanan membawa perniagaan ayahnya ke negeri Syam, di sebuah tempat bermalam di jalan dia diterkam singa hingga mati.
“Dan isterinya.” (pangkal ayat 4). Dan isterinya akan disiksa Tuhan seperti dia juga. Tidak juga akan memberi faedah baginya hartanya, dan tidak juga akan memberi faedah baginya segala usahanya: “Pembawa kayu bakar.” (ujung ayat 4).
Sebagai dikatakan tadi nama isterinya ini Arwa, gelar panggilan kehormatannya sepadan dengan gelar kehormatan suaminya. Dia bergelar Ummu Jamil: Ibu dari kecantikan! Dia saudara perempuan dari Abu Sufyan. Sebab itu dia adalah ‘ammah (saudara perempuan ayah) dari Mu’awiyah dan dari Ummul Mu’minin Ummu Habibah.
Tetapi meskipun suaminya di waktu dulu seorang yang tampan dan ganteng, dan dia ibu dari kecantikan, karena sikapnya yang buruk terhadap Agama Allah kehinaan yang menimpa diri mereka berdua. Si isteri menjadi pembawa “kayu api”, kayu bakar, menyebarkan api fitnah ke sana sini buat membusuk-busukkan Utusan Allah.
“Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (ayat 5).
Ayat ini mengandung dua maksud. Membawa tali dari sabut, artinya, karena bakhilnya, dicarinya kayu api sendiri ke hutan, dililitkannya kepada lehernya, dengan tali daripada sabut pelepah korma, sehingga berkesan kalau dia bawanya berjalan.
Tafsir yang kedua ialah membawa kayu api ke mana-mana, atau membawa kayu bakar. Membakar perasaan kebencian terhadap Rasulullah mengada-adakan yang tidak ada. Tali dari sabut pengikat kayu api fitnah, artinya bisa menjerat lehernya sendiri.
Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya bahwa Tuhan menurunkan Surat tentang Abu Lahab dan isterinya ini akan menjadi pengajaran dan i’tibar bagi manusia yang mencoa berusaha hendak menghalangi dan menantang apa yang diturunkan Allah kepada Nabi-Nya, karena memperturutkan hawa nafsu, mempertahankan kepercayaan yang salah, tradisi yang lapuk dan adat-istiadat yang karut-marut. Mereka menjadi lupa diri karena merasa sanggup, karena kekayaan ada. Disangkanya sebab dia kaya, maksudnya itu akan berhasil. Apatah lagi dia merasa bahwa gagasannya akan diterima orang, sebab selama ini dia disegani orang, dipuji karena tampan, karena berpengaruh. Kemudian ternyata bahwa rencananya itu digagalkan Tuhan, dan harta-bendanya yang telah dipergunakannya berhabis-habis untuk maksudnya yang jahat itu menjadi punah dengan tidak memberikan hasil apa-apa. Malahan dirinyalah yang celaka. Demikian Ibnu Katsir.
Dan kita pun menampak di sini bahwa meskipun ada pertalian keluarga di antara Rasulullah SAW dengan dia, namun sikapnya menolak kebenaran Ilahi, tidaklah akan menolong menyelamatkan dia hubungan darahnya itu.
***
Selain bernama “Al-Lahab” (nyala) Surat ini pun bernama “Al-Masadd”,
yang berarti tali yang terbuat dari sabut itu. Beberapa faedah dan kesan
kita perdapat dari Surat ini.Pertama: Meskipun Abu Lahab paman kandung Nabi SAW saudara kandung dari ayahnya, namun oleh karena sikapnya yang menantang Islam itu, namanya tersebut terang sekali di dalam wahyu, sehingga samalah kedudukannya dengan Fir’aun, Haman dan Qarun, sama disebut namanya dalam kehinaan.
Kedua: Surat Al-Lahab ini pun menjadi i’tibar bagi kita bagaimana hinanya dalam pandangan agama seseorang yang kerjanya “membawa kayu api”, yaitu menghasut dan memfitnah ke sana ke mari dan membusuk-busukkan orang lain. Dan dapat pula dipelajari di sini bahwasanya orang yang hidup dengan sakit hati, dengan rasa kebencian kerapkalilah bernasib sebagai Abu Lahab itu, yaitu mati kejang dengan tiba-tiba bilamana menerima suatu berita yang tidak diharap-harapkannya. Mungkin juga Abu Lahab itu ditimpa oleh penyakit darah tinggi, atau sakit jantung.
***
Pelajaran Tauhid di kelas kali ini membahas tentang
kisah Abu Lahab. Guru kami bertanya pada kami mengapa Abu Lahab dinash
dalam Al Qur'an sebagai orang yang celaka? Apakah Tuhan merencanakan penderitaan bagi seseorang? Bukankah Dia tidak mendzolimi hamba-Nya?
Pertanyaan diajukan agar semua berpikir secara bijak terkait urusan aqidah. Lalu diantara kami menjawab bahwa itu pilihan Abu Lahab sendiri. Bukankah saat itu petunjuk sudah sedemikian jelas, dan orang hanya perlu memilih mau mengikuti Rosul, atau dengan kesombongannya tetap berada dalam wilayah kekufuran? Karena Abu Lahab memilih jalan celaka, maka turunlah ayat tersebut.
Akan tetapi, setelah itu guru bertanya... "Surah ini dikemukakan sebelum periode kematian Abu Lahab,"
Kami lantas berpikir... "Tentu sebetulnya masih ada jeda/peluang untuk ia bertaubat," Tapi mengapa seperti sudah tervonis bahwa Ia Celaka? Apakah ketidak taubatannya dikemudian hari... juga merupakan kehendak-Nya? Atau bagiamana?
NB*
Pertanyaan diajukan agar semua berpikir secara bijak terkait urusan aqidah. Lalu diantara kami menjawab bahwa itu pilihan Abu Lahab sendiri. Bukankah saat itu petunjuk sudah sedemikian jelas, dan orang hanya perlu memilih mau mengikuti Rosul, atau dengan kesombongannya tetap berada dalam wilayah kekufuran? Karena Abu Lahab memilih jalan celaka, maka turunlah ayat tersebut.
Akan tetapi, setelah itu guru bertanya... "Surah ini dikemukakan sebelum periode kematian Abu Lahab,"
Kami lantas berpikir... "Tentu sebetulnya masih ada jeda/peluang untuk ia bertaubat," Tapi mengapa seperti sudah tervonis bahwa Ia Celaka? Apakah ketidak taubatannya dikemudian hari... juga merupakan kehendak-Nya? Atau bagiamana?
NB*
Dengan tetap berbaik sangka pada-Nya, dan berusaha mencari jawaban atau kalimat yang tepat untuk membahasakan hubungan irodah-Nya beserta kisah tersebut, semoga kita dapat mengambil pelajaran dari surah ini.
Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang berbenah diri, terus berusaha mensucikan diri, dan berharap Allah menerima kita sebagai hamba yang diridhoi-Nya.. Aamiin.
Senin, 28 Oktober 2013
Read
الْمَاهِرُ
بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ
الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ
Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat
bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca
Al-Qur`an dengan tertatah-tatah dan dia sulit dalam membacanya, maka
dia mendapatkan dua pahala. HR. Muslim no. 798
Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan tertatah-tatah dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala. HR. Muslim no. 798
Kamis, 24 Oktober 2013
Az Zumar 9
أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاء اللَّيْلِ سَاجِداً وَقَائِماً يَحْذَرُ
الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ
لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُوا الْأَلْبَابِ 
(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia
takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya?
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang
yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat
menerima pelajaran.Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada orang-orang kafir Quraisy, apakah mereka lebih beruntung ataukah orang yang beribadat di waktu malam, dalam keadaan sujud dan berdiri dengan sangat khusyuknya. Dalam melaksanakan ibadahnya itu timbullah dalam hatinya rasa takut kepada azab Allah di kampung akhirat, dan memancarlah harapannya akan rahmat Allah.
Perintah yang sama diberikan Allah kepada Rasul Nya agar menanyakan kepada mereka apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Yang dimaksud dengan orang-orang yang mengetahui ialah orang-orang yang mengetahui pahala yang akan diterimanya, karena amal perbuatannya yang baik, dan siksa yang akan diterimanya apabila ia melakukan maksiat. Sedangkan orang-orang yang tidak mengetahui ialah orang-orang yang sama sekali tidak mengetahui hal itu, karena mereka tidak mempunyai harapan sedikutpun akan mendapat pahala dari perbuatan baiknya, dan tidak menduga sama sekali akan mendapat hukuman dan amal buruknya.
Di akhir ayat Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran, baik pelajaran dari pengalaman hidupnya atau dari tanda-tanda kebesaran Allah yang terdapat di langit dan di bumi serta isinya, juga terdapat pada dirinya atau suri teladan dari kisah umat yang lalu.
At Taubah
Surat At Taubah terdiri atas 129 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.
Surat ini dinamakan At Taubah yang berarti pengampunan berhubung kata
At Taubah berulang kali disebut dalam surat ini. Dinamakan juga dengan
Baraah yang berarti berlepas diri yang di sini maksudnya pernyataan
pemutusan perhubungan, disebabkan kebanyakan pokok pembicaraannya tentang
pernyataan pemutusan perjanjian damai dengan kaum musyrikin.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat dari surat ini.
Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina 'Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:
1. Keimanan:
Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman; pembalasan atas amalan-amalan manusia hanya dari Allah; segala sesuatu menurut sunnatullah; perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman; kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. di sisi Allah.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban menafkahkan harta; macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya; jizyah; perjanjian dan perdamaian; kewajiban umat Islam terhadap Nabinya; sebab-sebab orang Islam melakukan perang total; beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.
3. Kisah-kisah:
Nabi Muhammad s.a.w. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah; perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin); perang Tabuk.
4. Dan lain-lain:
Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.
Di samping kedua nama yang masyhur itu ada lagi beberapa nama yang lain yang merupakan sifat dari surat ini.
Berlainan dengan surat-surat yang lain, maka pada permulaan surat ini tidak terdapat basmalah, karena surat ini adalah pernyataan perang dengan arti bahwa segenap kaum muslimin dikerahkan untuk memerangi seluruh kaum musyrikin, sedangkan basmalah bernafaskan perdamaian dan cinta kasih Allah.
Surat ini diturunkan sesudah Nabi Muhammad s.a.w. kembali dari peperangan Tabuk yang terjadi pada tahun 9 H. Pengumuman ini disampaikan oleh Saidina 'Ali r.a. pada musim haji tahun itu juga.
Selain daripada pernyataan pembatalan perjanjian damai dengan kaum musyrikin itu, maka surat ini mengandung pula pokok-pokok isi sebagai berikut:
1. Keimanan:
Allah selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beriman; pembalasan atas amalan-amalan manusia hanya dari Allah; segala sesuatu menurut sunnatullah; perlindungan Allah bagi orang-orang yang beriman; kedudukan Nabi Muhammad s.a.w. di sisi Allah.
2. Hukum-hukum:
Kewajiban menafkahkan harta; macam-macam harta dalam agama serta penggunaannya; jizyah; perjanjian dan perdamaian; kewajiban umat Islam terhadap Nabinya; sebab-sebab orang Islam melakukan perang total; beberapa dasar politik kenegaraan dan peperangan dalam Islam.
3. Kisah-kisah:
Nabi Muhammad s.a.w. dengan Abu Bakar r.a. di suatu gua di bukit Tsur ketika hijrah; perang Hunain (perang Authas atau perang Hawazin); perang Tabuk.
4. Dan lain-lain:
Sifat-sifat orang yang beriman dan tingkatan-tingkatan mereka.
Al Anfal
Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat
Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah. Surat ini
dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata
Al Anfaal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang
menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan
hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya. Menurut riwayat Ibnu
Abbas r.a. surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi
pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah
yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam. Pada waktu itu umat Islam
dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin
yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam
peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit. Oleh sebab
itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka
kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.
Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka; menentukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah; jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman; 'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal; hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman; tindakan-tindakan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia; adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar; adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin; syirik adalah dosa berat.
2. Hukum-hukum:
Aturan pembagian harta rampasan perang; kebolehan memakan harta rampasan perang; larangan lari/mundur dalam peperangan; hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam; kewajiban taat kepada pimpinan dalam perang; keharusan mengusahakan perdamaian; kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang; ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan; tujuan perang dalam Islam; larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat; larangan mengkhianati perjanjian.
3. Kisah-kisah:
Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar, suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung; keadaan Nabi Muhammad s.a.w. sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau; orang yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w.; kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.
4. Dan lain lain:
Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman; sunnatullah pada seseorang dan masyarakat.
Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka; menentukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah; jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman; 'inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal; hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman; tindakan-tindakan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia; adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar; adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin; syirik adalah dosa berat.
2. Hukum-hukum:
Aturan pembagian harta rampasan perang; kebolehan memakan harta rampasan perang; larangan lari/mundur dalam peperangan; hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam; kewajiban taat kepada pimpinan dalam perang; keharusan mengusahakan perdamaian; kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang; ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan; tujuan perang dalam Islam; larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat; larangan mengkhianati perjanjian.
3. Kisah-kisah:
Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar, suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung; keadaan Nabi Muhammad s.a.w. sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau; orang yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w.; kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.
4. Dan lain lain:
Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman; sunnatullah pada seseorang dan masyarakat.
Al A'raf
Surat Al A'raaf yang berjumlah 206 ayat termasuk golongan surat Makkiyah,
diturunkan sebelum turunnya surat Al An'aam dan termasuk golongan surat Assab
'uththiwaal (tujuh surat yang panjang). Dinamakan Al A'raaf karena
perkataan Al A'raaf terdapat dalam ayat 46 yang mengemukakan tentang keadaan
orang-orang yang berada di atas Al A'raaf yaitu: tempat yang tertinggi di batas
surga dan neraka.
Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Mentauhidkan Allah dalam berdoa dan beribadat; hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam; menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat; Allah bersemayam di 'Arasy; bantahan terhadap kepalsuan syirik; ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara dengan Allah; tentang melihat Allah; perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah; Allah mempunyai al asmaaul husnaa.
2. Hukum-hukum:
Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk; kewajiban mengikuti Allah dan rasul; perintah berhias waktu akan sembahyang; bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah; perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis; kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.
4. Dan lain-lain:
Al Quran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya; Nabi Muhammad s.a.w. diutus untuk seluruh manusia; adab orang mukmin, adab mendengar pembacaan Al Quran dan berzikir; rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah; balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul; da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah; tentang ashhaabul A'raaf yang berada antara syurga dan neraka; Allah pencipta makhluk; manusia adalah makhluk yang terbaik dijadikan Allah serta mempunyai kesediaan untuk baik dan untuk buruk; permusuhan syaitan terhadap Bani Adam; manusia khalifah Allah di muka bumi; kehancuran sesuatu kaum adalah karena perbuatan mereka sendiri; tiap-tiap bangsa mempunyai masa jaya dan masa kehancuran; Allah mencoba manusia dengan kakayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Pokok-pokok isinya:
1. Keimanan:
Mentauhidkan Allah dalam berdoa dan beribadat; hanya Allah sendiri yang mengatur dan menjaga alam; menciptakan undang-undang dan hukum-hukum untuk mengatur kehidupan manusia di dunia dan di akhirat; Allah bersemayam di 'Arasy; bantahan terhadap kepalsuan syirik; ketauhidan adalah sesuai dengan fitrah manusia; Musa berbicara dengan Allah; tentang melihat Allah; perintah beribadat sambil merendahkan diri kepada Allah; Allah mempunyai al asmaaul husnaa.
2. Hukum-hukum:
Larangan mengikuti perbuatan dan adat istiadat yang buruk; kewajiban mengikuti Allah dan rasul; perintah berhias waktu akan sembahyang; bantahan terhadap orang yang mengharamkan perhiasan yang dianugerahkan Allah; perintah memakan makanan yang halal lagi baik dan larangan memakan yang sebaliknya.
3. Kisah-kisah:
Kisah Nabi Adam a.s. dengan iblis; kisah Nabi Nuh a.s. dan kaumnya; kisah Nabi Shaleh a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Syu'aib a.s. dengan kaumnya; kisah Nabi Musa a.s. dengan Fir'aun.
4. Dan lain-lain:
Al Quran diturunkan kepada Nabi yang penghabisan dan perintah mengikutinya; Nabi Muhammad s.a.w. diutus untuk seluruh manusia; adab orang mukmin, adab mendengar pembacaan Al Quran dan berzikir; rasul bertanggung jawab menyampaikan seruan Allah; balasan terhadap orang-orang yang mengikuti dan mengingkari rasul; da'wah rasul-rasul yang pertama sekali ialah mentauhidkan Allah; tentang ashhaabul A'raaf yang berada antara syurga dan neraka; Allah pencipta makhluk; manusia adalah makhluk yang terbaik dijadikan Allah serta mempunyai kesediaan untuk baik dan untuk buruk; permusuhan syaitan terhadap Bani Adam; manusia khalifah Allah di muka bumi; kehancuran sesuatu kaum adalah karena perbuatan mereka sendiri; tiap-tiap bangsa mempunyai masa jaya dan masa kehancuran; Allah mencoba manusia dengan kakayaan dan kemiskinan; istidraj azab Allah terhadap orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya.
Langganan:
Postingan (Atom)